Kisah Bripka Syamsuddin, Bikin Madrasah di Tanah Mayoritas Katolik dan Gratiskan Buat Tak Mampu

Bripka Syamsuddin dan istrinya Rini Mulyasari
Sumber :
  • TvOne/ Jo Kenaru - Manggarai NTT

Manggarai, VIVA – Cahaya mentari pagi menyelinap lewat jendela, menerangi wajah-wajah mungil penuh semangat di Madrasah Deen Assalam. Tangan-tangan kecil berebut teracung, bersaing menjawab pertanyaan guru.

img_title Akselerasi Pemulihan NTT, Inalum Kirim Bantuan Logistik hingga Relawan

"Saya, Bu! Saya tahu!" teriak seorang anak yatim dengan baju seragam yang sudah pudar.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di sudut ruangan, seorang gadis kecil tersandung jawaban yang salah, tapi senyumnya tetap mengembang. Api keingintahuan di matanya menyala-nyala.

img_title Bentrokan Antarwarga Palu Kembali Pecah, Polisi Tambah Personel dan Dirikan Pos Jaga

Di tengah gemuruh pesawat yang lepas landas di Bandara Frans Sales Lega, suara riang 30 anak Madrasah Deen Assalam, menyihir suasana sepi di Jalan Bengawan Cuncalawar menjadi oase harapan.

Madrasah sederhana yang sudah tertata in,i hanya memiliki tiga ruang kelas dengan dinding sudah diplaster.

img_title 253 Sekolah Rusak Terdampak Gempa NTT, Begini Cara Pemerintah Selamatkan Pembelajaran

Selain memiliki tiga ruang kelas, MI Deen Assalam dilengkapi dengan ruang tata usaha, ruang kepala sekolah, serta fasilitas MCK.

Kanopi seng dan baja ringan dekat kantor sekolah dihiasi gantungan kertas warna-warni bergoyang ditiup angin. Sebuah motto terpampang tegas: "Ilmu Kudapat, Syurga Kuraih", diikuti janji kedua: "Menciptakan Generasi Muslim Hafiz Quran".

Perjuangan sang Polisi Pendiri Madrasah

Di balik motto tadi, tersembunyi kisah heroik sang Penjaga Pelita Ilmu. Bripka Syamsuddin, polisi berpangkat Brigadir Kepala namanya tertera dalam susunan organisasi sebagai Ketua/ Pendiri Yayasan Fii Sabillilah.

Pada tahun 2019, Bripka Syamsudin dan istrinya Rini Mulyasari, mengambil inisiatif mendirikan TK Islam Raudhatul Athfal (RA) Deen Assalam, di Kota Ruteng Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kota ini dikenal dengan masyarakat yang mayoritas beragama Katolik. Sehingga kehadiran sekolah Islam menjadi penting bagi minoritas Muslim setempat yang menginginkan akses pendidikan berbasis nilai-nilai keislaman.

Nama "Deen Assalam" dipilih sebagai cerminan visi yayasan: "Deen" (agama) dan "Assalam" (kedamaian), menekankan pendidikan yang memadukan akidah Islam dengan prinsip perdamaian dan toleransi.

Latar Belakang Pendiri dan Motivasi

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Motivasi Syamsuddin- Rini Mulyasari mendirikan RA Deen Assalam, didorong oleh minimnya lembaga pendidikan Islam di Ruteng, khususnya untuk jenjang usia dini.

Sebagai bagian dari jaringan Raudhatul Athfal di bawah Kementerian Agama RI, sekolah ini dirancang untuk menyajikan kurikulum nasional yang diperkaya dengan pembelajaran agama Islam, seperti baca Al-Qur'an, akhlak, dan ibadah praktis.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut