Sekolah Rakyat, Visi Strategis Prabowo Putus Rantai Kemiskinan Lewat Pendidikan

Presiden Prabowo Subianto (dok: Cahyo - Biro Pers Sekretariat Presiden)
Sumber :
  • VIVA.co.id/Anisa Aulia

Jakarta, VIVA – Salah satu gagasan besar yang mengemuka dalam visi Presiden terpilih Prabowo Subianto adalah program ‘Sekolah Rakyat’, sebuah model pendidikan berbasis kerakyatan yang inklusif dan merata.

img_title DPR Tegur Menteri ATR/BPN soal Lambannya Persetujuan Lahan Program Presiden

Program ini merupakan bagian integral dari misi pemerintah untuk mewujudkan pendidikan yang adil, terjangkau, dan berkualitas, terutama bagi masyarakat di daerah tertinggal, terluar, dan terdepan (3T).

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dalam berbagai kesempatan, Prabowo menekankan bahwa pendidikan adalah senjata utama untuk membebaskan rakyat dari rantai kemiskinan struktural dan ketimpangan sosial. Sekolah Rakyat diharapkan menjadi solusi konkret terhadap disparitas akses pendidikan yang selama ini menjadi masalah laten di Indonesia.

img_title Eks Stafsus Sri Mulyani Girang Purbaya Diganti Suahasil: Terima Kasih Pak Presiden Selamatkan Kemenkeu

“Presiden memahami bahwa pendidikan menjadi kunci memutus kemiskinan, jangan sampai kemiskinan menjadi warisan,” kata Tenaga Ahli Utama Kantor Komunikasi Kepresidenan (Presidential Communication Office/PCO) Adita Irawati Adita dalam keterangan yang diterima di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, Minggu malam, 13 Juli 2025.

Anak-anak miskin di Indonesia.

Photo :
  • http://www.spesialtips.com/

img_title TK hingga SMP di Tanjungpinang Belajar dari Rumah Mulai 15-18 September Imbas Kabut Asap

Dia menjelaskan bahwa Sekolah Rakyat menjadi salah satu implementasi Asta Cita nomor empat Presiden Prabowo Subianto, yang di dalamnya menempatkan pendidikan sebagai kunci utama peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Sekolah Rakyat rintisan yang tersebar ke 100 lokasi di seluruh wilayah Indonesia itu akan di mulai secara resmi awal kalender tahun ajaran baru 2025/2026, pada Senin, 14 Juli 2025.  Pada tahap pertama program ini akan melibatkan 9.755 siswa, 1.554 guru dan 3.990 tenaga pendidikan sebagaimana yang dilaporkan Kementerian Sosial.

Para siswa dari keluarga dengan tingkat kesejahteraan terendah dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) itu akan mengawali seluruh rangkaian kegiatan di sekolah barunya dengan mengikuti rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah Program (MPLSP).

Menurut Adita, layanan yang membedakan dengan sekolah negeri adalah Sekolah Rakyat tidak hanya membebaskan biaya pendidikan, diberi makanan bergizi, seragam, hingga pembinaan karakter tetapi juga menyediakan tempat tinggal asrama.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Sekolah negeri memang gratis, tetapi bagaimana dengan ongkos transportasi, uang saku, dan perlengkapan sekolah? Itu semua tetap menjadi beban keluarga. Sementara untuk makan sehari-hari saja mereka sudah kesulitan,” kata Adita.

PCO juga menilai kalau Sekolah Rakyat lebih dari sekadar membuka akses tapi juga menyiapkan keterampilan hidup dan pemetaan potensi siswa, sehingga lulusan siap menghadapi dunia kerja atau merintis usaha.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut