Aksi Kekerasan Hantui Jurnalis di Daerah

Jurnalis aman Yayasan TIFA.
Sumber :
  • Dokumentasi Yayasan TIFA.

Jakarta, VIVA – Kekerasan  kepada Jurnalis masih terjadi dan semakin disoroti saat ini. Yayasan TIFA lewat program Jurnalisme Aman meluncurkan sebuah laporan yang merekam pengalaman jurnalis di tiga wilayah dengan tingkat kekerasan tinggi yaitu Aceh, Sulawesi Tengah, dan Papua Barat Daya.

img_title Viral Polisi Larang Jurnalis Liputan di Bundaran HI, Polda Metro Jaya Minta Maaf dan Bakal Evaluasi

Project Officer Jurnalisme Aman, Arie Mega mengungkapkan, jenis kekerasan yang dialami jurnalis di tiga wilayah itu juga berbeda. Di Aceh, jenis kekerasan utama antara lain intimidasi dan ancaman verbal, larangan liputan, perampasan alat dan kekerasan pasca-publikasi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sedangkan di Sulawesi Tengah, jenis kekerasan utama antara lain kekerasan fisik saat demo dan liputan Program Strategis Nasional (PSN), pemaksaan penghapusan dokumentasi hingga pelecehan seksual.
Sementara itu, jenis kekerasan utama yang sering dialami jurnalis di Papua Barat Daya lebih kekerasan bersifat multidimensi, berbasis ras, gender, dan politik.

img_title Dewan Pers Beri Penghargaan ke Perusahaan hingga Tokoh Pers, Salah Satunya Karni Ilyas

“Upaya penanganan kekerasan terhadap jurnalis sejauh ini masih terfragmentasi. Nota kesepahaman antara Dewan Pers dan Polri belum sepenuhnya diterapkan di daerah,” kata Arie di acara Konsultasi Forum Nasional: “Diseminasi Report Assessment Kekerasan Jurnalis di 3 Region”, dikutip dari keterangannya, Rabu, 6 Agustus 2025.

Dia mengungkapkan, saat ini pelatihan keamanan jurnalistik belum menjadi bagian dari program wajib di media atau organisasi profesi. SOP peliputan di lapangan tidak tersedia atau tidak diketahui oleh aparat, dan sistem aduan yang aman belum dibentuk secara merata di wilayah,” tambahnya.

img_title Prancis Setujui RUU Pendemo Lakukan Kerusakan Bayar Rp 200 Juta

Aksi Stop Kekerasan Terhadap Jurnalis

Photo :
  • ANTARA FOTO/Novrian Arbi

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dia menjabarkan, dari total 55 jurnalis yang diwawancarai secara mendalam di tiga wilayah tersebut, menyatakan pernah mengalami kekerasan atau ancaman dalam menjalankan tugas jurnalistik, baik secara fisik, verbal, maupun digital. Sebanyak 65 persen dari mereka mengaku sering atau kadang-kadang menghadapi kekerasan atau intimidasi, yang berdampak pada cara mereka bekerja dan merasakan keamanan.

Penelitian ini secara sengaja membatasi cakupan geografis pada tiga wilayah untuk menggali lebih dalam konteks lokal, dan tidak dimaksudkan untuk mewakili kondisi secara nasional. Fokus utama studi ini adalah untuk memahami bagaimana sistem perlindungan bekerja di lapangan, serta celah-celah yang perlu dibenahi untuk memperkuat keamanan jurnalis, terutama di daerah-daerah dengan infrastruktur advokasi yang terbatas.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut