Pakar ITB Ungkap Penyebab Banjir Aceh-Sumatera Kombinasi Siklon Senyar dan Kerusakan Lingkungan

Banjir menggenangi jalan dan pemukiman di Aceh Tamiang
Sumber :
  • FB

Jakarta, VIVA – Bencana banjir bandang dan longsor kembali menerjang sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan daerah sekitarnya sejak 24 November 2025. Dampak kerusakan meluas seiring cuaca ekstrem yang belum mereda.

img_title Korban Tewas Longsor di Tibet 16 Orang, 546 Masih Hilang

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat per 27 November 2025, sebanyak 34 orang meninggal dunia, 52 warga dinyatakan hilang, serta ribuan warga terdampak dan terpaksa mengungsi. Jumlah tersebut diperkirakan masih dapat bertambah.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Fenomena ini menjadi sorotan para pakar dari Institut Teknologi Bandung (ITB), khususnya Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB). Mereka menilai peristiwa tersebut dipicu kombinasi faktor atmosfer, kondisi geospasial, serta menurunnya kapasitas tampung lingkungan.

img_title Sebanyak 261 Wisatawan Asing Berhasil Diselamatkan Pascabanjir Bandang Nepal

Tim Kantor SAR Aceh mengevakuasi warga dari banjir di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh

Photo :
  • ANTARA/HO-Kantor SAR Aceh

Curah Hujan Ekstrem

img_title 121 Wisatawan Asing Diselamatkan Pasca Banjir Nepal

Ketua Program Studi Meteorologi, Dr. Muhammad Rais Abdillah, S.Si., M.Sc., dari Kelompok Keahlian Sains Atmosfer, menjelaskan bahwa karakteristik curah hujan di wilayah ini memang berbeda dibandingkan daerah lain di Indonesia.

"Memang wilayah Tapanuli sedang berada pada musim hujan, karena Sumatera bagian utara memiliki pola hujan sepanjang tahun atau dua puncak hujan dalam satu tahun, dan saat ini berada pada puncaknya," ujar Doktor Rais Abdillah dilansir laman itb.ac.id, Jumat, 28 November 2025.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa curah hujan pada periode tersebut tergolong sangat lebat. Berdasarkan data lapangan dan laporan media, sejumlah wilayah mencatat curah hujan lebih dari 150 milimeter, bahkan terdapat stasiun BMKG yang mencatat curah hujan lebih dari 300 milimeter, yang dikategorikan sebagai curah hujan ekstrem.

Sebagai perbandingan, curah hujan ekstrem di Jakarta pada awal Januari 2020, yang menyebabkan banjir besar di Jabodetabek, hingga mencapai sekitar 370 milimeter dalam satu hari. Kondisi di Sumatera Utara pada akhir November 2025 ini memiliki karakteristik curah hujan yang mendekati peristiwa Jakarta 2020 tersebut, sehingga tidak mengherankan jika dampak banjir dan longsornya cukup luas dan signifikan.

Siklon Tropis Senyar dan Degradasi Hutan

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut Dr. Rais, fenomena atmosfer yang memperkuat hujan ekstrem ini menunjukkan ciri khas adanya pusaran atau sirkulasi siklonik di sekitar wilayah Sumatera bagian utara.

"Pada tanggal 24 November sudah mulai terlihat adanya sistem yang berputar dari Semenanjung Malaysia. Dalam meteorologi, kita menyebutnya sebagai vortex, meskipun saat itu masih berupa bibit dan matanya belum terlihat jelas," jelas Dr. Rais.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut