Ekstremisme Sasar Anak, Prabowo Akan Terbitkan Perpres Ini

Kepala BNPT Komjen Pol (purn) Eddy Hartono
Sumber :
  • Youtube Humas BNPT

Jakarta, VIVA – Pemerintah bersiap mengambil langkah tegas menangani ekstremisme yang kini mulai mengincar anak-anak di bawah umur.

img_title Prancis Minta Media Sosial TikTok hingga Instagram Diblokir Cegah Kerusuhan Lanjutan

Presiden Prabowo Subianto disebut akan mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) khusus untuk pencegahan dan penanggulangan paham ekstrem berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Langkah ini disampaikan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Pol (Purn) Eddy Hartono, dalam konferensi pers di Mabes Polri, Rabu, 7 Januari 2026.

img_title Anak Sakit Serius, Orang Tua Juga Rentan Stres: Mengapa Dukungan Emosional Penting?

"Ini akan mengkonstruksikan di dalam kegiatan, yaitu Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang mengarah kepada terorisme. Yang mana tahun ini mudah-mudahan akan ditandatangani oleh Bapak Presiden melalui Peraturan Presiden," ujar Eddy.

Dirinya menjelaskan, saat ini rancangan Perpres tengah berada di Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) dan ditargetkan dapat segera diterapkan tahun ini.

img_title 5 Tips Membentuk Anak Mandiri dan Tangguh, Orang Tua Perlu Beri Ruang untuk Belajar

Lebih jauh, Eddy menyinggung KUHP baru yang mulai berlaku. Dengan aturan ini, tindakan persiapan teror sudah bisa dipidana, sehingga pemerintah bisa melakukan deteksi dini dan mencegah ekstremisme menyasar anak-anak.

"Juga dengan KUHP yang sudah berlaku tahun ini, juga perbuatan persiapak masuk dalam hukum pidana. Nah ini, sehingga semakin tahun mudah-mudahan kami bisa melakukan early warning, deteksi dini. Apalagi sekarang anak-anak ini rentan," kata Eddy.

Eddy menegaskan, ekstremisme pada anak biasanya dimulai dari ketertarikan terhadap ideologi tertentu, lalu naik ke tahap radikalisme, dan akhirnya mengarah ke terorisme.

Namun, anak-anak di bawah umur biasanya tidak menganut ideologi ekstrem secara penuh. Menurut Juru Bicara Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri, Kombes Mayndra Eka Wardhana, mereka lebih banyak meniru atau melakukan 'cosplay' tokoh ekstrem, tanpa sepenuhnya melakukan kekerasan.

"Ada kecenderungan meniru (cosplay) walaupun tidak secara penuh melakukan kekerasan atas dorongan ideologinya, akan tetapi ketika aksi itu terjadi, ya kurang lebih sama bahayanya dengan perilaku yang terdorong oleh ideologi," ujar Mayndra.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Mayndra mencontohkan ideologi Neo-Nazi, yang meski sudah lama ada, kini mulai ditiru anak-anak karena doktrin kepahlawanan yang diberikan.

"Itu teori Charles Darwin bahwa orang yang paling mampu atau makhluk yang paling mampu beradaptasi, dialah superior. Jadi superiority itu membuat proses dehumanism," kata dia.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut