Marinus Gea Tegaskan ESG Bukan Beban, tapi Sumber Nilai Perusahaan

Anggota DPR RI Fraksi PDIP, Marinus Gea
Sumber :
  • Dok. Istimewa

Jakarta, VIVA – Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan (PDIP) menilai isu lingkungan yang kian mengemuka telah mengubah cara pandang dunia usaha terhadap nilai perusahaan.

img_title 7 Tuntutan BEM SI Kalbar Terkait Karhutla: Minta Perusahaan Bertanggung Jawab hingga Penetapan Bencana Nasional

Nilai korporasi kini tidak lagi semata ditentukan oleh kinerja finansial, melainkan juga oleh komitmen perusahaan dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan merespons tuntutan para pemangku kepentingan. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Hal tersebut disampaikan Marinus Gea dalam sidang promosi Program Doktor Ilmu Manajemen, Universitas Sumatera Utara (USU) beberapa waktu lalu.

img_title Transformasi IT Berbasis AI Jadi Solusi Perusahaan RI Menuju Autonomous Enterprise

Dalam sidang terbuka tersebut, Marinus Gea mempertahankan disertasinya yang berjudul “Pengaruh Stakeholder Pressure dan Green Governance terhadap Company Value dengan Mediasi Sustainability Commitment dan Sustainability Report Assurance di Bursa Efek Indonesia.” 

Penelitian ini menyoroti pergeseran signifikan dalam pembentukan nilai perusahaan di Indonesia seiring meningkatnya perhatian terhadap isu lingkungan dan keberlanjutan.

img_title Buntut Karhutla, RI Bekukan Izin 6 Perusahaan, Total 32 Korporasi Kini Kena Sanksi

Marinus Gea menjelaskan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, volatilitas pasar, perubahan kebijakan pemerintah, serta meningkatnya kesadaran publik terhadap isu lingkungan membuat nilai perusahaan tidak lagi dapat diukur hanya dari indikator finansial.

“Nilai perusahaan saat ini tidak lagi hanya ditentukan oleh profitabilitas, tetapi juga oleh bagaimana perusahaan mengelola dampak lingkungan dan sosial dari aktivitas bisnisnya,” ujar Marinus Gea dikutip Senin, 12 Januari 2026.

Ia menyoroti sejumlah kasus kerusakan lingkungan yang melibatkan aktivitas korporasi, yang tidak hanya memicu reaksi publik luas, tetapi juga berdampak langsung pada kebijakan pemerintah, termasuk pencabutan izin usaha. 

Marinus juga menyinggung bencana banjir di Sumatera yang, menurutnya, tidak terlepas dari praktik deforestasi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, termasuk perusahaan yang kegiatan usahanya berkaitan langsung dengan eksploitasi sumber daya alam.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Secara tidak langsung, Marinus menegaskan bahwa lemahnya praktik green governance dan rendahnya sustainability commitment dapat menurunkan legitimasi perusahaan, meningkatkan risiko operasional, serta menggerus nilai perusahaan di mata investor dan masyarakat.

Namun demikian, ia menilai bahwa penilaian company value di Indonesia hingga kini masih didominasi oleh indikator finansial jangka pendek. Aspek keberlanjutan dan Environmental, Social, and Governance (ESG) masih kerap dipersepsikan sebagai beban, bukan sebagai sumber penciptaan nilai.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut