Jaga Posko Logistik, Relawan Ini Terpanggang

Wedus Gembel saat letusan Gunung Merapi tahun 2006
Wedus Gembel saat letusan Gunung Merapi tahun 2006
Sumber :
  • www.volcanodiscovery.com

VIVAnews - Langit seperti sedang runtuh di atas Sri Rahayu (42) warga Glagaharjo, Cangkringan. Anak sulungnya, Aris Widyatmoko (28), tewas secara mengenaskan. Aris dilumat wedhus gembel atau awan panas Gunung Merapi yang mahaganas itu.

Petaka itu bermula saat Gunung Merapi, pada 5 November lalu, meletus dahsyat dan menyapu bersih dusun Besalen, Glagaharjo, Cangkringan, tempat Sri sekeluarga tinggal.

Saat letusan pertama pada 26 Oktober 2010, Sri berserta suaminya, Sriyono, serta kedua anak mereka, Aris Widyatmoko dan Isnaini, sudah mengungsi bersama warga lain ke balai desa.

Di tempat pengungsian, Sri punya peran penting. Pasalnya, ibu dua anak itu sudah terbiasa dengan situasi sulit seperti ini. Tambahan lagi, Sri merupakan anggota relawan Tagana--korps khusus relawan bencana. 

Melihat sosok ibunya itu, Aris terpanggil untuk mengikuti jejak sang ibu. Dia lalu memutuskan untuk menjadi relawan dadakan, menjaga posko logistik di desanya. Ibu dan anak itu bekerja bahu-membahu menolong korban bencana.

"Awalnya, Kamis malam (4 November), kami sudah mendapat informasi dari Pak Lurah bahwa tempat mengungsi sudah tidak aman. Semua pengungsi harus segera dievakusi secepatnya ke tempat yang lebih aman," tutur Sri saat berbincang dengan VIVAnews.com di Ruang Forensik RS Sardjito, Senin, 8 November 2010.

Tanpa pikir panjang, Sri bersama suaminya, Sriyono, langsung membangunkan pengungsi lain yang tengah terlelap tidur. "Saya suruh semua pengungsi untuk cepat-cepat naik motor dan truk, untuk turun ke bawah mencari tempat yang lebih aman," katanya.

Di tengah evakuasi, Sri tak sadar kalau Aris masih berjaga di posko logistik bersama relawan lain. "Jarak posko logistik dengan posko utama pengungsi cukup jauh, sekitar 2 km, tepatnya Banjarsari," katanya.

Sri dan suaminya mencoba untuk menghubungi telepon seluler milik Aris. Tidak ada jawaban.

"Suami saya coba mau menjemput, tapi di atas sudah banyak api dan suara bambu terbakar. Kami sudah tidak sempat menjemput Aris, dan akhirnya dipaksa petugas TNI untuk naik truk untuk dievakuasi," kenangnya, lirih. "Firasat saya sudah buruk. Sangat kecil kemungkinan anak saya selamat."

Di jalan, Sri menyaksikan pemandangan yang mengerikan. Sungai Gendol dialiri lahar panas.

Berhari-hari dia dan suaminya mencari tahu keberadaan Aris. Tanpa kenal lelah, dia mendatangi kamar jenazah RS Sardjito. Dan benar saja, empat hari setelahnya, tepatnya Senin pagi 8 November, tim SAR menemukan mayat putranya. Kondisinya mengenaskan: hangus terpanggang.

Tangis Sri langsung pecah begitu dia melihat sesosok jasad di salah satu kantong mayat. "Saya yakin itu anak saya, terutama dari ciri-ciri giginya," ujarnya, terisak. "Saya ikhlas, anak saya gugur dalam tugas mulia membantu orang lain." (kd)