KPK Bongkar Circle yang Bantu Koruptor: Keluarga, Ajudan hingga Kolega Politik

Ilustrasi Gedung KPK
Sumber :
  • ANTARA/Rio Feisal

Jakarta, VIVA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyebut adanya pola keterlibatan orang-orang di sekitar pelaku utama tindak pidana korupsi.

img_title KPK Sita Dokumen Penitipan Calon Mahasiswa Unsoed, Rumah 3 Wakil Rektor Digeledah

Lingkaran atau circle ini tidak hanya berperan pada saat modus operandi korupsi dilakukan, tetapi juga seringkali menjadi layering melakukan penerimaan uang hasil tindak pidana korupsi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain itu, peran-peran pihak lain di sekitaran pelaku kerap dijadikan sarana untuk menyamarkan dan mengalirkan uang.

img_title Soal Permintaan Hadirkan Jokowi di Sidang Korupsi Kuota Haji, KPK Bilang Begini

"Dari beberapa perkara yang ditangani KPK tersebut, terungkap fenomena keterlibatan 'circle' pelaku utama dari pihak keluarga, orang kepercayaan, rekan kerja, hingga kolega politik," ucap juru bicara KPK, Budi Prasetyo dalam keterangannya, dikutip Selasa 21 April 2026.

"Ada yang terlibat sejak awal proses perencanaan, bersama-sama melakukan perbuatan, ada juga yang menjadi 'layer' atau perantara dalam penerimaan uang hasil korupsi, hingga pihak-pihak yang membantu menampung atau menyamarkan aliran uang," sambungnya.

img_title KPK Keluarkan Sprindik Baru Kasus Suap Proyek di Kabupaten Bekasi, Nama Anggota Polri Yayat Sudrajat Ikut Terseret

Budi juga menyinggung kasus dugaan korupsi terkait pengadaan barang di Kabupaten Pekalongan yang menyeret nama sang Bupati, Fadia Arafiq.

Bupati melalui keluarganya melakukan intervensi kepada para perangkat daerah, untuk memenangkan perusahaan keluarga Bupati dalam tender pengadaan.

"Pihak keluarga juga diduga mendapatkan aliran uang hasil tindak pidana korupsi tersebut," ungkap Budi.

Selain kasus Bupati, KPK juga menemukan peran-peran pembantu di kasus Pemkab Bekasi, yang melibatkan lingkaran keluarga, antara anak dan ayah.

"Dimana, Bupati melalui ayahnya, diduga menerima 'ijon' dari para pihak swasta di Kabupaten Bekasi," ungkapnya.

Demikian juga dengan kasus Pemkab Tulungagung, yang memiliki alur serupa dilakukan melalui circle rekan kerja. Termasuk melibatkan orang kepercayaan Bupati yakni ajudan atau ADC.

Di sisi lain, KPK menemukan skema berlapis di perkara Bea Cukai. Selain dugaan penerimaan uang tunai yang disimpan di safe house, kami juga menemukan penggunaan nama kolega kerja yang dicatut sebagai nominee atau digunakan sebagai rekening penampungan dana.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kondisi ini menunjukkan bahwa korupsi layaknya sebuah ekosistem, ada yang mengatur, ada yang menjalankan, ada yang menyimpan.

Jabatan publik tidak lagi berdiri netral, tetapi kerap menjadi titik temu berbagai kepentingan, termasuk sebagai alat balas jasa atau pembiayaan politik.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut