Membaca Paslon Pimpinan NU di Muktamar ke-35 NU

Tokoh NU, Gus Lilur
Sumber :
  • Dok. Istimewa

Jakarta, VIVA – HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur mengungkapkan perkembangan yang terjadi menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU). 

img_title 1 Juta Liter Air Bersih Disalurkan untuk Warga Terdampak Karhutla dan Kekeringan

Ia menjelaskan secara normatif, Rais Aam dipilih melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Akan tetapi, dalam realitas politik internal, komposisi AHWA tidak sepenuhnya steril. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Ia kerap dikondisikan, dipengaruhi, bahkan diatur melalui relasi dan kepentingan yang melibatkan calon Rais Aam dan calon Ketua Umum," kata Gus Lilur dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 28 April 2026.

img_title Gus Ipul Dukung KPK Usut Dugaan Suap Muktamar NU, Ancam Seret Pelapor ke Pengadilan Jika Tak Terbukti

Ia menambahkan arah pilihan AHWA tak terlepas dari konfigurasi awal yang dibentuk oleh para aktor utama. 

Informasi ini, kata dia, harus dibaca sebagai bagian dari dinamika internal yang masih dinamis. Namun, dalam pembacaan politik organisasi, menurutnya  menunjukkan bahwa komposisi AHWA menjadi arena strategis yang sangat menentukan.

img_title Misteri Rp250 Juta dari PCNU Nias, KPK Telusuri Dugaan Kaitannya dengan Muktamar NU

"Menurut narasi yang berkembang, kedua kiai tersebut dipersepsikan memiliki kecenderungan memilih Said Aqil Siradj sebagai Rais Aam, sementara Gus Ipul menghendaki Miftachul Akhyar tetap berada di posisi tersebut," katanya.

Menurutnya, ada pertarungan di Muktamar ke-35 NU di ruang pemilihan, bahkan sudah berlangsung jauh sebelumnya di ruang-ruang penentuan yang berhak memilih.

Jika dinamika ini ditarik lebih luas, maka pada hari ini—dan tentu masih bisa berubah hingga pelaksanaan Muktamar—komposisi persaingan 'pasangan calon' pimpinan NU dapat dibaca sebagai berikut.

Pertama, Yahya Cholil Staquf tetap berada dalam posisi mencalonkan diri sebagai Ketua Umum. Namun demikian, ia masih berada dalam proses mencari pasangan yang tepat untuk posisi Rais Aam.

Kedua, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul berada dalam posisi mempertahankan dirinya sebagai Sekretaris Jenderal, dengan kecenderungan mendorong Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam, sambil tetap mencari konfigurasi yang ideal untuk posisi Ketua Umum.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Ketiga, terdapat jaringan yang beririsan dengan Partai Kebangkitan Bangsa yang mendorong skema Ketua Umum tertentu dengan Said Aqil Siradj sebagai Rais Aam," katanya.

Keempat, muncul pula pembacaan terhadap jaringan yang beririsan dengan Kementerian Agama, yang mempertimbangkan figur Menteri Agama, Nazaruddin Umar, sebagai calon Ketua Umum, sementara posisi Rais Aam masih terbuka untuk dikonfigurasikan.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut