Poltracking: Elektabilitas Gerindra Tertinggi 23,2%, Salip PDIP dan Golkar
- Istimewa
Jakarta, VIVA – Poltracking menggelar survei nasional mengenai elektabilitas partai politik (parpol). Hasilnya, Partai Gerindra memiliki elektabilitas tertinggi dengan 23,2 persen di atas PDI Perjuangan (PDIP) dan Partai Golkar.
Sementara itu, PDIP memiliki elektabilitas 11,6 persen dan Partai Golkar 10,4 persen.
"Partai Gerindra dengan elektabilitas 23,2 persen, masih unggul dibanding partai-partai lainnya yang mendukung pemerintahan saat ini," kata peneliti Poltracking Indonesia, Yoki Alvetro, dalam konferensi pers secara virtual, dikutip Kamis, 24 September 2026.
Yoki menjelaskan persaingan di bawah tiga besar terlihat lebih ketat. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) memperoleh 6,2 persen, hanya terpaut 0,1 poin dari Partai Demokrat yang berada di angka 6,1 persen.
Selanjutnya, Partai NasDem memperoleh 4,4 persen, PAN 3,4 persen, dan PKS 3,3 persen. PSI tercatat memiliki elektabilitas 2,3 persen, sedangkan PPP 1,9 persen.
Berikut hasil survei Poltracking terbaru mengenai elektabilitas partai:
-Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) 23,2%
-Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) 11,6%
-Partai Golongan Karya (Golkar) 10,4%
-Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) 6,2%
-Partai Demokrat (PD) 6,1%
-Partai NasDem 4,4%
-Partai Amanat Nasional (PAN) 3,4%
-Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 3,3%
-Partai Solidaritas Indonesia (PSI) 2,3%
-Partai Persatuan Pembangunan [PPP) 1,9%
-Partai Persatuan Indonesia (Perindo) 0,6%
-Partai Buruh 0,5%
-Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) 0,3%
-Partai Ummat 0,1%
-Partai Bulan Bintang (PBB) 0,1%
-Partai Gerakan Perubahan Indonesia (Garuda) 0,1%
-Partai Kebangkitan Nusantara (PKN) 0,1%
-Partai Gelombang Rakyat Indonesia (Gelora) 0,1%
-Tidak tahu/tidak jawab 25,3%
Diketahui, survei ini dilakukan pada 14-20 Agustus 2026 melalui wawancara tatap muka. Survei dilakukan terhadap 1.200 responden yang tersebar di 38 provinsi di Indonesia.
Metode sampel menggunakan metode multistage random sampling. Tingkat kepercayaan 95 persen, margin of error kurang lebih 2,9 persen.