“Kompensasi Nomor Dua, Maaf Paling Utama”

Duta Besar Belanda Tjeerd de Zwaan Hadir Di Peringatan Peristiwa Rawagede
Duta Besar Belanda Tjeerd de Zwaan Hadir Di Peringatan Peristiwa Rawagede
Sumber :
  • VIVAnews/Anhar Rizki Affandi

VIVAnews – Bupati Karawang Ade Swara menyatakan, kompensasi uang dari pemerintah Belanda bukanlah yang utama bagi keluarga korban pembantaian Rawagede. Ia menegaskan, permohonan maaf resmi dari Belanda jauh lebih bermakna.

“Yang paling berarti adalah kata ‘maaf’ dan penyesalan pemerintah Belanda, bahwa mereka mengakui apa yang mereka lakukan di sini pada tahun 1947 adalah tragedi yang semestinya tidak terjadi,” kata Ade usai Peringatan Tragedi Rawagede di Monumen Rawagede, Desa Balongsari, Karawang, Jawa Barat, Jumat 9 desember 2011.

Keluarnya permintaan maaf dari pemerintah Kerajaan Belanda, ujar Ade, menunjukkan bahwa apa yang diperjuangkan para janda dan keluarga korban di Pengadilan Den Haag, Belanda, adalah fakta. Lebih lanjut, Ade menilai kemenangan kasus Rawagede bagi pihak keluarga korban, dapat menjadi pintu bagi terungkapnya puluhan kasus pembantaian serupa yang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia.

“Ini langkah awal untuk melanjutkan kasus-kasus lain di beberapa daerah di Indonesia. Kan selama ini kita dengar ada puluhan kasus lain yang modusnya sama,” kata Ade. Menanggapi potensi diajukannya kasus pembantaian lain oleh tentara Belanda ke pengadilan, Belanda tetap bersikap tenang.

“Apa yang terjadi selanjutnya, ya lihat nanti,” kata Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Tjeerd De Zwaan. Saat ini, menurutnya, yang terpenting adalah dia bahagia bisa menjadi perwakilan Belanda untuk menyampaikan permintaan maaf secara langsung kepada keluarga korban.

Ade Swara sendiri menilai, permohonan maaf Belanda memang cukup melegakan keluarga korban. “Tampak kegembiraan pada keluarga korban,” kata dia.

Awasi Kucuran Kompensasi

Ade mengemukakan, Pemerintah Daerah Karawang akan bekerja sama dengan berbagai pihak untuk mengawasi pencairan dan distribusi dana kompensasi dari pemerintah Belanda kepada keluarga korban. “Kami akan berkoordinasi, meski belum ada komunikasi detail. Rincian kompensasi nanti akan dibicarakan dengan pemerintah pusat (RI) dan pemerintah Belanda,” paparnya.

Pemerintah Belanda menyiapkan kompensasi sebesar 20.000 Euro atau setara dengan Rp240 juta untuk 9 janda korban pembantaian. Dengan demikian, total kompensasi yang diberikan pemerintah Belanda adalah 180.000 Euro atau setara dengan Rp2,16 miliar.

“Tentunya tidak ada jumlah uang yang dapat menggantikan semua hal yang menjadi kerusakan di sini. Tapi uang 20.000 Euro adalah suatu permintaan maaf secara sukarela untuk menggantikannya,” kata Liesbeth Zegveld, warga Belanda yang juga menjadi pengacara para janda korban pembantaian Rawagede di Pengadilan Den Haag, Belanda. (umi)