SOROT 176

Fisika: Rasa Sayange Truly Indonesia

Logo Bandung Fe Institute
Sumber :
  • www.bandungfe.net

VIVAnews –Hokky Situngkir masih ingat peristiwa di akhir tahun 80an itu. Di sebuah pastoral di kampungnya, Sidikalang, Sumatera Utara, dia berdiri di hadapan kakeknya. Bangunan itu sunyi. Di luar, angin kencang sedang bertiup. Sang kakek berhenti menggesek biola.

“Kau dengar suara angin ribut itu?”, tanya sang kakek. Dia menyuruh Hokky menajamkan telinga. Hokky, saat itu masih bocah enam tahun, lalu menyimak desau keras angin. Si kakek lalu melanjutkan, “Sekarang, adakah kau dengar kicau burung di antara angin ribut itu?”

Sang kakek adalah Liberty Manik atau L.Manik, seorang komponis besar Indonesia, pencipta lagu “Satu Nusa Satu Bangsa”.

Kini, Hokky berterimakasih pada mendiang kakeknya itu. Lewat L.Manik, telinga alumnus Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB) itu diasah mengenal bunyi, dan juga musik. Dia juga akrab dengan lagu tradisional Indonesia. Apalagi, L. Manik juga dikenal ahli Gondang, musik khas Batak.

Hokky Situngkir, adalah anak muda yang menekuni sains, terutama komputasi. Kelompoknya, Bandung Fe Institute, adalah kumpulan ilmuwan muda alumnus ITB. Lewat sains, mereka menjelajahi kekayaan budaya nusantara. Dari batik, lagu tradisional, sampai cerita rakyat. “Kita kaya dengan artefak budaya, tapi tak tertata baik,” ujar Hokky.

Di Bandung Fe Institute, bergabung mereka yang jago matematika, fisika, sampai astronomi. Sebagian besar, pernah dilatih Profesor Yohanes Surya. Hokky sendiri kerap mengguncangkan jagat sains nasional, lewat Teori Fraktal Batik, sistem komputasi melacak asal-usul Batik. 

Hasil risetnya menyebar di berbagai jurnal internasional bergengsi. Dia memang rajin menulis soal sains, terutama fisika dan komputasi.

Suatu hari, telinga Hokky menangkap berita tak mengenakkan. Pada 1 Oktober 2007, ada iklan pariwisata di Malaysia bertajuk "Malaysia, Truly Asia", menggunakan lagu rakyat. Liriknya campuran Melayu, Inggris, Mandarin, dan India. Sampai di sini, tidak ada yang salah.

Tapi, jika didengarkan lebih lanjut, lagu itu sangat akrab di telinga. Ada lirik “… Rasa sayang sayange” di lagu itu, tapi diubah jadi “… Rasa sayang sayang hey”. Jelas, itu dimodifikasi dari lagu Rasa Sayange, lagu turun temurun rakyat Maluku.

Protes keras muncul dari Indonesia. Terutama di Internet, bahwa Malaysia “mencuri” lagu Rasa Sayange untuk mempromosikan pariwisata mereka. Anggota DPR-RI juga berteriak keras. (Baca juga Berseteru Demi Rasa Sayang).

Tapi Tengku Adnan Tengku Mansor, Menteri Pariwisata Malaysia ketika itu menyatakan, Rasa Sayang –versi mereka dari lagu Rasa Sayange –adalah lagu rakyat di kepulauan Nusantara, dan Indonesia tak bisa mengklaim punya lagu tersebut.

Seperti tak mempan dikritik, esoknya Rais Yatim, Menteri Kebudayaan, Kesenian, dan Warisan Malaysia menantang Indonesia untuk membuktikan lagu ‘Rasa Sayange’ adalah warisan asli budaya Indonesia.

Hokky dan kawan-kawan pun terusik.

Menelisik “DNA” lagu

Anak-anak Bandung Fe Institute itu pun mulai bekerja. Kebetulan, mereka lagi mengumpulkan lagu-lagu tradisional nusantara. Dari lagu Bungong Jeumpa di Aceh, sampai aneka lagu rakyat dari Papua.

Suatu pemodelan pun dibuat melalui program komputer. Obyeknya adalah lagu-lagu nusantara. Pedomannya sederhana: setiap lagu pasti punya sekuens nada berbeda. Yang dicari adalah satuan informasi dasar dari sebuah lagu.

“Membedakan manusia bisa dilakukan dengan mengamati genetika dan informasi yang tersimpan di DNA,” kata Hokky kepada VIVAnews, 22 Februari 2012. “Tetapi untuk mengetahui “DNA” lagu, kita perlu mengetahui satuan informasi terkecil yang dapat menghasilkan perbedaan rasa setiap lagu,” ujarnya menerangkan.

Sebuah not, kata Hokky, tak bisa mewakili sebuah lagu. Not berdiri sendiri, dan membentuk lagu jika dia berada bersama barisan nada lainnya. Hokky pun menemukan satuan terkecil bagi lagu: sekuens nada.

Untuk melacak sekuens nada, para peneliti itu lalu menyiapkan database lagu-lagu daerah dari sekujur Indonesia. Mereka mencatat barisan nadanya, dan lalu digitalkan. Data polifonik dari lagu, diubah menjadi data monofonik.

“Inti dari analisis ini adalah mengkaji representasi nada dan durasi dari sebuah lagu,” kata Hokky. “Dan dari material ini, selanjutnya diubah menjadi data deret waktu,” ujar Hokky.

Langkah selanjutnya adalah menentukan parameter membentuk pita meme dari setiap lagu. Parameter ini diperoleh dengan memanfaatkan sejumlah metode dalam studi mekanika statistik yang berkembang dalam ilmu fisika.

Dari hasil penelitian, Holly membuat lima parameter yang membentuk sebuah pita meme.
 
Parameter pertama adalah koefesien Zipf-Mandelbrot. Dengan parameter ini, musik dipandang sebagai "bahasa". Jika setiap konfigurasi nada dan durasi adalah huruf, maka ia akan membentuk kata (untaian nada). Kata-kata tersebut lalu diurutkan. Mulai dari yang sering dipakai, hingga yang jarang digunakan.

Dari pola ini, kemudian dihitung nilai-nilai koefesien Zipf-Mandelbrot di dalamnya. Hasilnya ada tiga variabel menunjukkan kompleksitas fitur statistik dari nada dan fitur dari lagu itu. Ia merefleksikan pola pengulangan untaian nada pada lagu.
 
Komponen pita meme yang kedua adalah koefesien girasi. Di sini, peneliti membandingkan nada dan durasi pada satu waktu dengan waktu sebelumnya. Ia juga dapat diubah menjadi visualisasi gerak radial.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title Kia Carens EV Mulai Bisa Dipesan, Ini yang Bikin Menarik
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut