Koleksi Museum Dicuri, Kemendikbud Lacak Jalur Lelang

Museum Nasional Sepi Pengunjung
Museum Nasional Sepi Pengunjung
Sumber :
  • VIVAnews/Fernando Randy

VIVAnews - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhammad Nuh, menyatakan prihatin atas pencurian koleksi benda sejarah di Museum Nasional. Bekerjasama dengan kepolisian, Kemendibud akan melacak koleksi museum yang dicuri itu.

"Harus diupayakan pengembalian aset itu. Kami bersama akan mencari tahu aliran dari barang-barang itu, termasuk kami kerjasama dengan lembaga-lembaga lelang, baik yang nasional maupun internasional," kata Nuh saat ditemui di Gedung Sanghita, Cipinang, Jakarta Timur, Jumat 13 September 2013.

Nuh sangat yakin barang bersejarah seperti itu akan masuk  jaringan pelelangan.

Selain itu, Nuh menambahkan Kemendikbud juga akan bekerjasama dengan asosiasi arkeologi. Komunitas ini dianggap sangat paham dengan nilai dan profil barang yang dicuri tersebut.

"Di komunitas itu, merekalah yang sering kali memperbincangan soal barang itu, di sini benda-benda arkeologi dibahas," kata dia.

Mantan menteri komunikasi dan informatika ini menegaskan tidak bisa menaksir berapa nilai kerugian barang koleksi itu. Pasalnya, nilai barang itu tidak bisa dirupiahkan.

"Itu kan emas , ada yang 6 dan 12 cm. Kalau toh beratnya misalnya 200 gram 400 gram dan diganti emas biasa, bisa kami cari, tapi ini bukan itu. Ini barang sejarah, tidak bisa dirupiahkan dalam bentuk barang," terang Nuh.

Seperti diketahui, artefak yang hilang tersebut disimpan di sebuah lemari kaca ruang Khasanah, yang berada di lantai dua gedung lama Museum Nasional.

Keempat artefak berupa lempengan emas ini terdiri dari Lempeng Naga Mendekam berinskripsi dengan panjang 5,6 centimeter dan lebar 5 centimeter, ditemukan pada abad 10 Masehi Kerajaan Mataram Kuno.

Yang kedua adalah Lempeng Bulan Sabit Beraksara dengan berukuran panjang 8 centimeter dan lebar 5,5 centimeter ditemukan pada abad 10 Masehi Kerajaan Mataram Kuno.

Ketiga adalah Wadah Bentuk Cepuk dengan cepuk berututup diameter 6,5 centimeter dan tinggi 6,5 centimeter pada abad 10 Masehi Kerajaan Mataram Kuno.

Dan keempat adalah Lempeng Harihara dengan panjang 10,5 centimeter dan lebar 3,5 centimeter dan ditemukan pada akhir abad ke-11 di Belahan Jawa Timur. (eh)