SBY Didapuk Jadi Guru Besar Ketahanan Nasional

Peluncuran Buku Presiden SBY "Selalu Ada Pilihan"
Peluncuran Buku Presiden SBY "Selalu Ada Pilihan"
Sumber :
  • VIVAnews/Muhamad Solihin

VIVAnews - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dikukuhkan menjadi Guru Besar bidang ilmu Ketahanan Nasional oleh Universitas Pertahanan (Unhan), Kamis, 12 Juni 2014 di Sentul, Bogor.

Menurut rektor Unhan Laksamana Muda TNI Desi Albert Mamahit, SBY adalah profesor pertama di Indonesia dalam bidang ilmu Ketahanan Nasional.

Sementara Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh menjelaskan, pemberian gelar profesor itu karena SBY dianggap berhasil mengonversi ilmu yang tak kelihatan menjadi pengetahuan eksplisit.

“Karena ketajamam intuisi, kehalusan emosi, dikaruniai tacit knowledge yang orang lain belum mampu paham. Dari tacit perlu diterapkan menjadi explicit knowledge,” kata Nuh.

Tacit knowledge adalah ilmu yang tidak kelihatan, sering berasal dari pengabdian dan kinerja. Dalam konteks SBY, kinerjanya yang dimaksud adalah saat ia berlaku sebagai presiden.

SBY dianggap mampu mematangkan demokrasi di Indonesia. Ia berkontribusi terhadap perkembangan strategi pertahanan negara, mulai dari sisi anggaran, kebijakan industri pertahanan, hingga keberhasilan menjadikan Indonesia sebagai penjaga perdamaian dunia.

Tacid knowledge SBY dari sublimasi pengetahuan, ketrampilan, dan ketajaman rasa untuk dituangkan dalam pengtahuan eksplisit yang bisa dikembangkan dengan formula pelajaran yang bisa dipahami dengan masyarakat,” Nuh menambahkan.

Selain itu, pengukuhan SBY juga mempertimbangkan penguasaan ilmu ketahanan nasional yang diperoleh dari berbagai pendidikan militer dan non militer, baik di dalam maupun luar negeri.

SBY memang memiliki latar belakang akademik yang diperlukan untuk menjadi guru besar.

Dia pernah mendapat gelar Master of Art (MA) bidang Manajemen dari Webster University, Missouri, Amerika Serikat dan gelar Doktor bidang Ekonomi Pertanian dari Institut Pertanian Bogor pada tahun 2004.

Karya akademis

Karya akademis SBY berupa buku dan artikel juga menjadi pertimbangan pemberia gelar itu. Beberapa karya akademisi itu antara lain: Coping with the Crisis-Securing the Reform (1999), Taman Kehidupan, Sebuah Antologi (2004), Transformasi Indonesia: Selected International Speeches (2005), Peace Deal with Aceh is Just a Beginning (2005), dan The Making of a Hero (2005).

Selain itu, SBY pun telah memberikan kuliah umum dan orasi ilmiah di beberapa perguruan tinggi ternama di dunia, seperti Columbia University, New York; Islamic University of Imam Muhammad bin Sa'ud, Riyadh, Arab Saudi; Keio University, Tokyo; Beijing University, Tiongkok; Harvard University, Amerika Serikat.

Selain gelar akademis, SBY juga telah menerima gelar kehormatan Doctor Honoris Causa dari beberapa perguruan tinggi di dalam dan luar negeri. Pada 2005, SBY menerima dua gelar Doctor Honoris Causa di Webster University, Amerika Serikat untuk bidang hukum dan Universitas Thammasat, Thailand untuk bidang politik.

Dua gelar Doctor Honoris Causa juga diterima pada tahun 2006, yaitu di Universitas Andalas, Sumatera Brata untuk bidang Pembangunan Pertanian Berkelanjutan dan dari Universitas Keio, Jepang untuk bidang Pemerintahan.

Pada 2012, Universiti Utara Malaysia menganugerahi gelar Doctor Honoris Causa di bidang Perdamaian. Pada 2013, SBY menerima gelar serupa dari Universitas Tsinghua, Beijing untuk bidang Ekonomi dan dari Rajaratnam School of International Studies (RSIS) Nanyang Technological University, Singapura untuk bidang Kepemimpinan dan Pelayanan Publik. (ita)