Perjuangan Pasangan Lansia Dapatkan Rumah yang Diambil Anaknya

Achmad Tjakoen Tjokrohadi (92) dan Boedi Harti (86)
Achmad Tjakoen Tjokrohadi (92) dan Boedi Harti (86)
Sumber :
  • VIVAnews/D.A. Pitaloka (Malang)

VIVAnews -  Sulit dipercaya rasanya bila ada anak kandung menggugat orangtua sendiri. Hal itu juga dirasakan oleh pasangan Achmad Tjakoen Tjokrohadi, 92, dan Boedi Harti, 86.

Di usia yang lanjut, mereka harus berkutat dengan hukum hanya untuk mendapatkan kembali rumah satu-satunya, dari anaknya sendiri.

Pensiunan TNI AD dengan pangkat Letnan Kolonel itu tak pernah percaya bila anaknya menempuh jalur hukum untuk mendapatkan rumah satu-satunya di Jalan Diponegoro 2, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Jawa Timur.

“Menurut akal saya, tidak mungkin jika anak saya berbuat demikian jauh. Sebab anak saya itu taat kepada saya sebelumnya. Di belakang anak saya pasti ada pihak lain,” kata Achmad.

Ditemui di kediamannya, pria kelahiran Ponorogo itu tampak sehat menjelang satu abad usianya. Suaranya tegas dan lantang, senyumnya ramah, postur tubuhnya pun terlihat tegap. Namun keriput di wajahnya dan tongkat yang menyanggah tangan kananya menjadi bukti perjuangannya sebagai tulang punggung penyangga keluarga.

Pendengarannya yang tak lagi berfungsi sempurna menunjukkan usianya tak lagi muda. Di usianya yang senja, dia dan istrinya harus was-was tak bisa menutup mata di rumah yang dibangun dari keringat mereka sendiri.

Awal mula

Sengketa tak lazim melawan darah daging sendiri menurutnya dimulai sekitar tahun 1999. Saat itu dia ingin membuat warisan rumah satu-satunya, untuk delapan buah hatinya.

Bersama salah seorang anaknya, Ani Hadi Setyowati atau yang akrab disapa Tatik, Achmad Tjakoen pun mulai menyusun rencana untuk membuat akta hibah.  Suatu hari, dia diminta Tatik untuk pergi ke notaris tanpa bertanya apapun.

“Hanya datang, tidak boleh bertanya apapun, tanda tangan kemudian keluar,” ujar dia.

Tak disangka, menurut pria yang akrap disapa Hadi itu, akta hibah yang ditandatanganinya menyebut memberikan rumah seutuhnya untuk Tatik. Hadi yang merasa itu tidak sesuai keinginannnya meminta Tatik untuk mengembalikan akta hibah dan membuat sesuai dengan keinginannya.

Rumah besar berukuran 1.000 meter persegi peninggalan Belanda itu dibelinya pada tahun 1968, ketika Tatik berusia belasan tahun, “Saya ingin rumah ini dibagi untuk delapan anak saya, bukan hanya satu,” ucapnya.

Hadi pun menyimpan akta tersebut di lemari kamarnya. Dia ingin segera mendiskusikan akta tersebut bersama seluruh anak-anaknya. Namun, pada suatu saat putri keempatnya tiba-tiba datang dan mengambil akta dari dalam lemarinya.

Ndak taunya diambil dari lemari saya ketika saya tidur, seolah rumah ini dicomot dari saya," ujar dia.

Setelah peristiwa itu, Hadi tak pernah mendapat kesempatan untuk menanyakan mengapa akta hibah tersebut diambil oleh anaknya. Sang anak yang bekerja sebagai bankir dan berdomisili di Jakarta selalu tak pernah bisa dihubungi.

“Saya kontak sampai dua kali tak ada respons. Pada komunikasi yang ketiga suaminya datang. Jika ingin akta diubah saya harus bayar Rp2,7 miliar,” ucap dia.

Belakangan, dia baru tahu bila anaknya menghitung seluruh uang yang diberikan kepada Hadi. Anaknya yang semasa kecil dikenal jago matematika memiliki perincian uang yang diberikan kepada orangtuanya yang sebagian besar digunakan untuk renovasi rumah. Layaknya utang, catatan pemberian uang itu pun disertai dengan bunga.

“Perasaan saya, saya anggap itu uang untuk menyambung hidup orangtua karena saya sudah pensiun. Kalau harus mengembalikan sejumlah berapa yang diberikan kepada saya, saya kembalikan semuanya. Ini kesanggupan enam anak saya. Tapi kalau pengembalian sifatnya sebesar harga beli (rumah) ya lebih baik terus saya tuntut,” ujarnya.

Gugat


Merasa ingin mendapatkan penengah dari pemerintah, Hadi pun berangkat ke Pengadilan Agama. Menurutnya masalah hibah bisa segera terselesaikan di jalur keagamaan, sesuai aturan agamanya, Islam. Namun pengertiannya ternyata salah.