Legenda Arca Nyei Punggungi Gunung Raung
Rabu, 29 Juli 2015 - 06:16 WIB
Sumber :
- VIVA.co.id/ D. A. Pitaloka
VIVA.co.id
- Jalan Purbakala Desa Pekauman Kecamatan Grujukan sepintas tak berbeda dengan desa lain di Kabupaten Bondowoso. Namun, jika siapa pun yang masuk ke jalan itu akan menemukan aneka jenis batu tersebar di antara ladang tembakau atau tebu hingga halaman rumah penduduk setempat. Salah satu artefak yang terlihat menonjol adalah arca Batu Nyei, batu perempuan yang berdiri di tengah ladang tembakau, memunggungi gunung Raung yang berada di sisi timurnya.
“Itu batu Nyei, sudah ada sejak saya kecil,” kata Nihak, penduduk setempat, Selasa, 28 Juli 2015.
Seperti hari-hari sebelumnya, pagi itu, Nihak sedang mencari rumput di sela ladang tembakau, di sekitar Jalan Purbakala, Desa Pekauman. Dari kisah turun temurun, Nihak menyebut batu itu adalah sosok wanita yang menjadi batu akibat tersambar petir.
“Ceritanya, dia ditinggal suaminya ke pasar menjual daun, kemudian dia berlari menyusul dan tersambar petir menjadi batu,” kata Nihak sambil menunjuk arca batu yang menyerupai sosok perempuan tak jauh dari tempatnya mencari rumput.
Arca batu itu memiliki tinggi sekitar 2 meter dengan bagian kaki hingga lutut terkubur dalam tanah. Bagian wajah terpahat dengan kasar, menyisakan sedikit lekuk akibat terkikis zaman dan usia. Kedua tangan tampak menelangkup menutup vulva nya. Sedangkan bagian pinggul terpahat dengan ukuran yang lebih menonjol dibanding bagian pahatan lain.
“Sepertinya dia malu, jadi menutup kemaluannya,” kata Nihak.
Sementara arca suami atau batu Jei, dahulu juga ada sekitar 200 meter ke arah barat dari lokasi batu Nyei saat ini. Sayangnya, batu arca Jei tak lagi di lokasinya.
“Dulu ada batu suaminya, dia juga tersambar petir, tapi saya tak tahu sekarang di mana,” ujarnya.
Hingga saat ini, Nihak mengaku sering melihat pengunjung yang datang dan meninggalkan uang disekitar arca. Beberapa pengunjung bahkan sempat melilitkan kain putih untuk menutup bagian pinggang dari arca Nyei.
"Banyak yang naruh uang di patung itu, mereka berdoa sesaat, tidak tahu berdoa untuk apa.”
Arca Nyei Lambang Dewi Kesuburan
Baca Juga
“Itu batu Nyei, sudah ada sejak saya kecil,” kata Nihak, penduduk setempat, Selasa, 28 Juli 2015.
Seperti hari-hari sebelumnya, pagi itu, Nihak sedang mencari rumput di sela ladang tembakau, di sekitar Jalan Purbakala, Desa Pekauman. Dari kisah turun temurun, Nihak menyebut batu itu adalah sosok wanita yang menjadi batu akibat tersambar petir.
“Ceritanya, dia ditinggal suaminya ke pasar menjual daun, kemudian dia berlari menyusul dan tersambar petir menjadi batu,” kata Nihak sambil menunjuk arca batu yang menyerupai sosok perempuan tak jauh dari tempatnya mencari rumput.
Arca batu itu memiliki tinggi sekitar 2 meter dengan bagian kaki hingga lutut terkubur dalam tanah. Bagian wajah terpahat dengan kasar, menyisakan sedikit lekuk akibat terkikis zaman dan usia. Kedua tangan tampak menelangkup menutup vulva nya. Sedangkan bagian pinggul terpahat dengan ukuran yang lebih menonjol dibanding bagian pahatan lain.
“Sepertinya dia malu, jadi menutup kemaluannya,” kata Nihak.
Sementara arca suami atau batu Jei, dahulu juga ada sekitar 200 meter ke arah barat dari lokasi batu Nyei saat ini. Sayangnya, batu arca Jei tak lagi di lokasinya.
“Dulu ada batu suaminya, dia juga tersambar petir, tapi saya tak tahu sekarang di mana,” ujarnya.
Hingga saat ini, Nihak mengaku sering melihat pengunjung yang datang dan meninggalkan uang disekitar arca. Beberapa pengunjung bahkan sempat melilitkan kain putih untuk menutup bagian pinggang dari arca Nyei.
"Banyak yang naruh uang di patung itu, mereka berdoa sesaat, tidak tahu berdoa untuk apa.”
Arca Nyei Lambang Dewi Kesuburan
Halaman Selanjutnya