Lumbung Kami Lenyap Dimakan Rayap

Petani menanam padi di areal sawah desa Pabean Udik, Indramayu, Jawa Barat.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Dedhez Anggara

Berpuluh tahun lalu, jauh sebelum Desa Lubuk Resam dinobatkan menjadi desa. Tata pranata dusun diatur oleh para 'Jungku'. Yakni para pemangku adat yang dipercaya memiliki kelebihan khusus.

Para Jungku ini mengatur setiap norma kehidupan. Mulai dari masalah moral, etika hingga pun masa bercocok tanam bagi warga dusun.

Mereka, selalu memulainya dengan rapat di rumah ketua Jungku. Sehingga setiap keputusan selalu merujuk ke rapat dusun ataupun merujuk pada pertanda alam untuk hal-hal yang berkaitan dengan tanaman.

Karena itu, bertani bagi sebagian warga memang bukan sekadar bercocok tanam biasa. Namun juga sebuah konsep sakralitas dan berhubungan langsung dengan fenomena alam.

Sebab itu pula seorang Jungku dituntut memang harus memiliki kemampuan membaca pertanda alam. Agar masa panen dan tanam tak membuat rugi penduduknya.

"Semua dilakukan dengan sakral. Dari mulai jadwal menanam hingga pun panen, dilakukan dengan tertib. Tak bisa sembarangan," ujarnya.

Tahun berjalan, tradisi leluhur ini pun kini diabaikan. Jungku-jungku sudah tergantikan dengan peran kepala desa dan perangkatnya.

Sejalan dengan itu, keahlian membaca pertanda alam dan musim pun ikut tergerus. Tradisi berubah selaras dengan bergesernya iklim.

Para mantan jungku dan warga desa sudah tak terampil lagi membaca fenomena alam. Bercocok tanam pun akhirnya menjadi sebuah kegiatan rutin sekadar memenuhi kebutuhan perut dan duit.

Panen-panen banyak yang gagal. Jadwal yang dahulunya tertib kini tak beraturan. Musim hujan dan kemarau yang biasanya bisa terdeteksi, sudah sangat sulit untuk dirapal.

"Kami tak bisa lagi membaca kapan musim tanam, kapan musim banyak tikus dan burung dan kapan waktunya berlibur di rumah," kenang Wak Thamrin.

Ancaman rawan pangan

img_title Perubahan Iklim Bisa Punahkan Wine dan Cokelat

Kini, hampir separuh penduduk Desa Lubuk Resam, masih menggantung nasib di hamparan tanah dan hutan yang mereka miliki.

Beberapa pemuda mulai meninggalkan desa dan mengadu peruntungan sebagai pekerja di luar. Sedikit yang beruntung menjadi pekerja kantoran, sisanya mengandalkan otot di pasar ataupun pelabuhan.

Tanah desa ditinggalkan untuk para orang tua yang sudah tak cukup kuat untuk mengadu nasib. Sawah dan ladang dikelolah tak lagi merujuk ke musim. Namun sudah berdasarkan kebutuhan pasar.

"Jadi kalau cabai naik, tanam cabai. Kalau ada kabar karet naik, semua mulai tanam karet. Padi sawah paling cuma untuk berjaga-jaga agar tak kelaparan saja," ujar warga desa lainnya Suhirman.

Lubuk Resam pun jauh berubah. Apalagi sejak dibukanya akses ke desa ini dengan kendaraan berat pada delapan tahun lalu.

Dari yang dulunya cuma seminggu sekali ada kendaraan, kini sudah berubah menjadi setiap hari meski hanya maksimal hingga pukul 16.00.

Lampu-lampu listrik berpendaran di setiap rumah. Lampu minyak ditinggalkan di pondok-pondok sawah dan ladang kalau sedang bermalam.

Urunan beras saat pesta pernikahan pun menjadi tak zaman. Paling cuma dilakukan segelintir orang lagi. Beberapa warga kini lebih memilih memberi kado kepada pengantin. Praktis dan tak merepotkan.

Dari kejauhan, bidang-bidang sawah terlihat sudah tertutup oleh pucuk-pucuk karet. Sisanya berhamparan pelepah sawit kecil yang sedang menunggu siap panen entah berapa tahun lagi.

"Zaman berubah. Iklim berubah. Langit berubah, pemerintah berubah. Jam juga berubah. Warga kami pun berubah. Biasalah namanya kemajuan zaman," ujar Wak Thamrin.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Para pengunjuk rasa membawa spanduk dalam demonstrasi perubahan iklim

Atasi Krisis Energi Harus dengan Kerja Lintas Sektoral

Ego sektoral masih menjadi problem bagi pemerintah daerah

img_title
VIVA.co.id
3 Agustus 2016
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut