BNPT: Senjata Antiteror Indonesia Perlu Diperbaharui

Simulasi Penanganan Teroris oleh BNPT
Simulasi Penanganan Teroris oleh BNPT
Sumber :
  • VIVAnews/Ikhwan Yanuar

VIVA.co.id - Deputi Penindakan dan Pembinaan Kemampuan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Inspektur Jenderal Polisi Arief Dharmawan, menyatakan persenjataan yang digunakan BNPT untuk penanggulangan terorisme perlu diperbaharui.

Sebab, persenjataan yang selama ini digunakan sudah lama.

"Memang, banyak yang perlu di-upgrade. Tapi saya senang juga banyak masukan-masukan dari instansi TNI-Polri, yang menyatakan perlatan itu akan diperbaharui. Dan, kami tetap 'I do the best'. Kita lakukan yang terbaik untuk menyukseskan, apa yag sedang dikerjakan," kata Arief, Minggu 15 November 2015.

Menurut dia, tak sedikit persenjataan yang dimiliki BNPT butuh di-upgrade, karena sudah berusia tua. Namun, ada pula beberapa peralatan yang usianya belum terlalu lama. Kendati begitu, dia memastikan, peralatan tidak menjadi penghambat penanggulangan terorisme.

"Pakai alat-alat yang lawas juga tidak masalah. TNI-Polri itu terkenal sebagai instansi yang sangat mahir memelihara peralatan yang dimiliki. Karena itu, keterbatasan peralatan tidak dijadikan alasan menghambat jalannya tugas," ujar dia.

Arief menjelaskan, dari sejumlah peralatan yang dimiliki TNI-Polri, ada alat baru yang cocok untuk penanganan terorisme. Seperti sniper milik Paskhas TNI AU, yang memiliki jangkauan 1,5 kilometer, atau robot Icor penjinak bom yang dimiliki Brimob.

Tak hanya itu, ada peralatan penting yang juga sudah dimiliki instansi lain. Seperti alat untuk mengukur kadar radioaktif di suatu daerah yang sudah dimiliki Badan nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Alat itu sudah diujicobakan dan digunakan pada simulasi kimia, biologi, radioaktif, dan nuklir (KBRN), belum lama ini.

"Alat pendeteksi radioaktif milik BNPB ini cukup menarik, karena sangat pastinya membantu. Dahulu, kalau mendeteksi radioaktif kasarannya minta salah satu prajurit untuk buka masternya, kalau dia pingsan berarti di tempat itu ada radiasinya. Saat ini hal itu kan sudah tak perlu lagi," ungkapnya. (asp)