Menanti Kemunculan Orang Berkarakter Gus Dur

Haul Gus Dur ke-4
Sumber :
  • VIVAnews/Ikhwan Yanuar
VIVA.co.id
Griya Gus Dur Akan Jadi 'Pangkalan' Aktivis Kebangsaan
- Beberapa tahun ke belakang, pergesekan antar umat beragama terus menggelora di berbagai daerah Indonesia. Padahal, saat Indonesia dipimpin oleh Abdurrahman Wahid atau Gus Dur hingga ia menghembus nafas terakhirnya, jarang terjadi rentetan kasus yang melibatkan antar umat beragama ini.

Rizal Ramli Dukung Pemulihan Nama Gus Dur
Menurut mantan Ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) PBNU periode 2004-2009, Ngatawi Al-Zastrow, kasus intoleran ini muncul ke permukaan ini karena tidak ada sosok yang berani untuk pasang badan, seperti yang dilakukan oleh Gus Dur.

Menko Luhut Dukung Pelurusan Nama Baik Gus Dur
"Sebetulnya gesekan itu dari orang yang dari dulu tidak setuju dengan langkah-langkah Gus Dur. Ketika ada (masih hidup) Gus Dur, tidak ada, karena Gus Dur seolah-olah seperti bemper, sehingga mereka mengerem. Begitu tidak ada (meninggal), mereka langsung berani, semakin menjadi-jadi," ujar dia saat ditemui di Komplek Al-Munawwaroh, Jalan Warung Silah 10, Ciganjur, Jakarta Selatan, Jumat petang, 25 Desember 2015.

Disampaikan Zastrow, orang yang punya karakter seperti Gus Dur ini ada tapi belum menggema ke publik. Sehingga, hal itu membuat sikap intoleren atau gesekan antar umat beragam semakin nyata.

"Orang-orang yang berani pasang badan bukan enggak ada, tapi belum muncul sampai detik ini," kata dia.

Kemudia Zastrow melanjutkan, konflik dunia dalam lima tahun terakhir terus masif, terutama di daerah Timur Tengah. Hal tersebut, tambahnya, secara tidak langsung menular ke Tanah Air konflik-konfliknya.

"Sudah gesekan di internasional, begitu figur yang berani pasang badan tidak, konflik mulai bermunculan," imbuh pria yang selalu menggunakan blankon ini.

Ia berharap ada sosok yang tampil menjadi panutan sebagai tokoh toleransi, di mana ia berani mengambil risiko dan juga berani dalam berbaur dengan siapa saja. Sebab, hal itu juga pernah dilakukan oleh Gus Dur semasa hidupnya, sehingga menjadi tokoh tolerensi di Indonesia.

"Karena toleransi berkaitan dengan kebiasaan, bergaul, berinteraksi. Jadi, sikap toleransi itu terbentuk bukan hanya dari mulut saja, tapi perilakunya juga," imbuh Zastrow yang pernah menjadi asisten pribadi Gus Dur.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya