Orang Rimba Jambi di Ambang Punah
Kamis, 11 Februari 2016 - 12:27 WIB
Sumber :
- ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan
VIVA.co.id - Hasil studi Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman bekerjasama dengan Komunitas Konservasi Indonesia WARSI memperlihatkan prevalensi Hepatitis B sebesar 33,9 persen pada Orang Rimba, atau juga dikenal sebagai Suku Anak Dalam. Hal ini menunjukkan empat dari 10 Orang Rimba mengidap penyakit yang disebabkan Virus Hepatitis B (VHB). Virus ini dapat menyebabkan peradangan hati akut, yang pada sebagian kasus juga berlanjut menjadi kanker atau sirosis hati.
Hasil penelitian ini juga bisa diartikan lebih dari sepertiga populasi Orang Rimba mengidap penyakit Hepatitis B. “Hasil studi ini sangat mengejutkan sekaligus memprihatinkan. Kondisinya bisa disebut hiperendemik pada Orang Rimba,” kata Ketua Tim Peneliti Kesehatan Orang Rimba dari LBM Eijkman, Herawati Sudoyo, Kamis, 11 Februari 2016 di Jambi.
Padahal, berdasarkan data Kementerian Kesehatan, angka prevalensi Hepatitis B di Provinsi Jambi secara keseluruhan, hanya 8,3 persen. “Kondisi ini sangat menuntut perhatian serius dari semua pihak, terutama pemerintah daerah. Mengingat dari studi yang kami lakukan, penderita tertinggi berdasar kelompok umur, justru berada pada usia produktif yaitu 17-55 tahun,” sebut Herawati yang juga menjabat Deputi Direktur LBM Eijkman.
Studi dilakukan dengan mengambil sampel darah Orang Rimba di tiga kabupaten, yaitu Sarolangun, Tebo dan Batanghari. Selain hepatitis, tim peneliti juga melakukan studi terhadap malaria dan defisiensi enzim G6PD (Glokosa-6-Fosfat Dehidrogenase).
Hasil studi malaria pada Orang Rimba juga sangat tinggi, jika dibandingkan data umum di Provinsi Jambi yang hanya 0,84 persen pada 1000 penduduk. Artinya, kurang dari 1 orang per seribu penduduk Jambi yang terkena malaria. Sementara pada Orang Rimba, studi menunjukkan 24,26 persen yang terkena malaria dari 610 sampel.
Pada kesempatan yang sama, Koordinator Program Komunitas Konservasi Indonesia WARSI, Robert Aritonang mengungkapkan, hasil studi LBM Eijkman menunjukkan perlunya program pencegahan dan pengobatan kepada Orang Rimba.
“Dari proses pendampingan kesehatan yang kami lakukan, sepanjang empat tahun terakhir kami menemukan dan memfasilitasi empat Orang Rimba yang sudah menderita sirosis di rumah sakit. Namun sayangnya tidak tertolong dan akhirnya meninggal dunia,“ sebut Robert.
Halaman Selanjutnya