Belanja di Pasar Ini Pakai Mata Uang Bambu
Senin, 21 Maret 2016 - 09:33 WIB
Sumber :
- VIVA.co.id/Dwi Royanto
Baca Juga
Singgih Susilo Kartono (48 tahun) adalah penggagas pasar langka nan unik ini. Pria lulusan Desain Produk pada Institut Teknologi Bandung itu menjelaskan bahwa berdirinya pasar berawal dari kegelisahan untuk memberdayakan warga sekitar.
Baca Juga
"Awalnya tidak mudah mewujudkan ini. Saya gagas sejak sepuluh tahun silam. Waktu itu saya sedih lihat warga desa saya yang produktif justru banyak mengadu nasib ke kota. Padahal desa harusnya jadi pusat kegiatan ekonomi," kata Singgih, baru-baru ini.
Baca Juga
Untuk lahan yang digunakan sebagai lokasi pasar, Singgih mengaku harus menyewa kawasan papringan di Caruban dari warga. Lahan seluas 1.000 meter persegi itu kemudian dibersihkan, dibuat jalan dari susunan batu, hingga tampak seperti taman yang indah.
Pekerjaan selanjutnya adalah mencari pedagang pengisi pasar. Ia menemui warga dari rumah ke rumah dan menawari mereka untuk berjualan.
“Di situlah sulitnya, saya harus meyakinkan warga. Gelaran pertama yang berjualan hanya 15 orang. Tapi saya berhasil mendatangkan pembeli. Ternyata ramai, meski promosi hanya lewat media sosial,” kata ayah dua putra itu.
Konsep revitalisasi desa dan perjalanan Pasar Papringan yang digagas Singgih membuat Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, yang datang ke lokasi itu sempat terkagum-kagum. Ia pun mengiyakan ketika Singgih meminta bantuan agar Desa Caruban dijadikan desa mandiri berdikari.
“Syarat desa mandiri berdikari itu dua: desa harus dapat swasembada pangan dan swasembada energi. Saya kira Caruban memiliki potensi besar. Bahkan model ini bisa diterapkan di daerah lain," kata Gubernur.
7 Tradisi Unik Perayaan Isra Miraj di Indonesia, dari Peksi Buraq hingga Khatam Kitab
Jelajahi 7 tradisi unik perayaan Isra Miraj di Indonesia, dari Rejeban Peksi Buraq di Yogyakarta hingga Rajaban di Cirebon yang sarat makna budaya dan spiritualitas.
VIVA.co.id
27 Januari 2025