Derita PSK Manado Tak Ikut BPJS
- sports.nationalpost.com
Tapi dia berkeinginan mengurus kartu BPJS. “Pekerjaan kami yang rentan sakit sangat membutuhkan BPJS. Kalau ada keringanan dari pemerintah, saya berusaha mengurusnya,” paparnya.
Hal senada disampaikan E (40), wanita yang mengaku sudah 20 tahun menjadi PSK. Hampir setiap bulan dia mengaku selalu terserang penyakit. “Saya juga bingung bagaimana sih cara mudah mengurus BPJS Kesehatan. BPJS itu kan sangat membantu,” kata wanita yang terlihat agak kurus.
Wanita satu anak yang datang dari Kepulauan Sangihe ini mengakui di tengah masyarakat nama mereka terlanjur buruk. Imbasnya, kata dia, mengurus jaminan kesehatan saja sulitnya minta ampun.
“Saya punya pengalaman buruk ketika sakit. Tahun lalu, saudara saya mengurus Universal Coverage atau Jamkesda agar tidak keluar biaya perawatan di rumah sakit. Tapi kepala lingkungan tidak memberikan rekomendasi untuk dibawa ke Puskesmas, dengan alasan saya seorang PSK yang sudah tertular HIV. Padahal sampai sekarang tidak terkena HIV,” ujarnya mengingat peristiwa itu.
Dia berharap pemerintah bisa memfasilitasi memberi pelatihan, sehingga berhenti dari pekerjaan selama ini. “Saya sudah lelah dengan pekerjaan ini. Tapi saya tidak punya keahlian membuka usaha atau apa saja yang penting halal. Kalau ada pekerjaan lain, saya ingin berhenti sebagai PSK,” tuturnya.
Ribuan PSK
Jones Oroh dari Komisi Penanggulangan AIDS Sulawesi Utara mengatakan, data PSK di Manado cukup besar dan mereka sangat rentan terkena berbagai penyakit, termasuk HIV-AIDS. Lihat saja datanya tahun 2012, PSK yang berinteraksi langsung yakni 831 orang.
“PSK langsung ini adalah mereka yang menjual seks sebagai mata pencaharian atau sumber penghasilan utama. Biasanya berbasis di rumah bordil atau lokalisasi atau bekerja di jalanan,” ujarnya.
PSK langsung ini paling tinggi berada di Kecamatan Wenang mencapai 560 orang, disusul Malalayang 100 orang dan Wanea 40 orang. Sedangkan kecamatan yang lain hanya sekira 20-an PSK saja. “Wenang adalah pusat Kota di Manado sehingga wajar PSK cukup banyak,” tuturnya.
Kemudian ia menyebutkan, ada juga PSK tidak langsung, yang bekerja di tempat-tempat bisnis hiburan malam seperti bar, karaoke, salon atau panti pijat dan mahasiswa. Datanya, kata dia, lebih mencengangkan lagi, yakni mencapai 1.190 orang. Paling tinggi di Kecamatan Wenang 621 orang, disusul Sario (255 orang) dan Wanea (106 orang).