Cara Mereka Melawan Ketakutan Teror

Vivi Normasari, korban bom JW Mariot yang kini menjadi agen perdamaian untuk melawan ketakutan terhadap terorisme.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Aryo Wicaksono

VIVA.co.id – Peristiwa ledakan bom di Hotel JW Marriot hampir 12 tahun silam tak pernah bisa luput dari ingatan Vivi Normasari. Setahun penuh ia harus menghilangkan trauma atas kejadian itu. Sembari menyembuhkan luka fisik akibat jari tangannya patah, dan pinggulnya terluka.

img_title Fakta-fakta Ancaman Bom di SDN Srengseng Sawah 15 Pagi Jagakarsa

Tahun berjalan, Vivi pun bangkit dari ketakutannya. Ia bahkan sudah memberanikan diri untuk mendatangi kembali lokasi ledakan. "Sempat gemetar tubuh saya, tapi akhirnya saya bisa lihat hotel itu, dan sudah mengalami banyak perubahan," ujar Vivi di Jakarta, Kamis 26 Mei 2016.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Vivi kini tergabung dalam lembaga Aliansi Indonesia Damai (AIDA), yang memberdayakan, melatih dan memobilisasi korban aksi kekerasan terorisme. Vivi kini menjadi agen perdamaian untuk menunjukkan pada masyarakat dampak dari kekerasan dan terorisme.

img_title Guru Ungkap Detik-detik Teror Bom Bikin Siswa SDN Srengseng Sawah 15 Jagakarsa Panik: Diminta Tetap di Lapangan

Ia bahkan mengaku sudah memaafkan para pelaku yang telah menciptakan derita dalam hidupnya. Terlepas kesembuhan mental dan fisik, peristiwa teror itu akan selalu melekat padanya.

Beberapa waktu lalu, AIDA bahkan memfasilitasi pertemuan antara VIvi dan mantan anggota kelompok teroris, Ali Fauzi Manzi. Tujuannya sebagai bagian dari tim perdamaian yang bertugas memberikan berbagai penyuluhan ke generasi muda.

img_title Teror Bom di SDN Srengseng Sawah 15 Saat Hari Pertama MPLS, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan

Awalnya Vivi tidak bisa menerima, melihat orang yang telah melatih para pembuat bom dan menciptakan derita pada hidupnya. "Saya memaki Pak Ali," ucapnya.

Tapi Vivi menyadari, bahwa kebenciannya hanya akan membawa keburukan pada pribadinya. Hingga akhirnya pada suatu waktu, Vivi ditemukan dengan Ali Manzi, ia pun melihat penyesalan Ali. Saat itu, empatinya muncul. "Saya berpelukan dengan Pak Ali," cerita Vivi. "Kita harus berani memaafkan."

Ali Fauzi, mantan anggota teroris yang ikut mendampingi Vivi juga mengisahkan, dia tak memiliki kaitan apapun dengan semua aksi teror bom di Indonesia. Tapi, dia menjadi instruktur para pembuat bom jaringan teroris di Indonesia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Hal ini membuatnya menyesal, dan merasa ikut bertanggung jawab menciptakan teror. "Hati saya teriris, hampir satu minggu setelah bertemu para korban tak bisa tidur, seperti memikul gunung," ujarnya,

Ali optimistis, jaringan teroris di Indonesia bisa dikikis dengan menanamkan nilai-nilai perdamaian pada generasi muda. "Kita tidak menginginkan generasi mendatang lebih akrab ke kekerasan terorisme," katanya.

Polisi berjaga di lokasi terkait dugaan teror bom di SDN Srengseng Sawah 15 Pagi, Jagakarsa, Jakarta Selatan

Wamendikdasmen Kutuk Teror Bom di SDN Srengseng Sawah 15, Minta MPLS Dihentikan Sementara

Selain itu, ia meminta meminta SDN Srengseng Sawah 15 Pagi menghentikan sementara pelaksanaan MPLS hingga ada kepastian bahwa kondisi sekolah benar-benar aman.

img_title
VIVA.co.id
13 Juli 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut