Napak Tilas Noordin M. Top (I)

Jejak Noordin Bermula dari Johor

VIVAnews - Perburuan Noordin M. Top hingga hari ini masih gencar. Lelaki 41 tahun ini dituduh terlibat dalam sejumlah pengeboman di Indonesia, sejak tahun  2002. Mulai dari kasus Bom Bali I hingga Bom Marriot II.

Petugas Detasemen Khusus 88 Polri dibantu petugas kepolisian juga menyisir beberapa daerah yang pernah disinggahi warga Malaysia yang telah mencemarkan nama Indonesia di muka dunia ini dengan aksi pengeboman.

img_title Perang Palestina dengan Israel, 50.000 Perempuan di Gaza Tewas Sejak 2023

Salah satu lokasi yang diawasi adalah rumah yang pernah ditempatinya Desa Pendekar Bahar, Bangko, Rokan Hilir, Riau. "Kami sudah menurunkan Tim Densus 88 mengawasi rumah Noordin M Top di Rohil," kata juru bicara Polda Riau, Ajun Komisaris Besar Polisi Zulkifli.
 
Letak Rokan Hilir memang berbatasan langsung dengan Malaysia. Akses dari
Rohil ke Malaysia menggunakan jalur laut. Noordin menyeberang dari Malaysia ke sini sekitar tahun 2002, sebab di negaranya dia sudah tak nyaman lagi. Kepolisian Diraja Malaysia menguber seluruh anggota Jamaah Islamiyah di sana.

Sarang Jamaah Islamiyah di Malaysia berada di Pesantren Luqmanul Hakiem, Johor. Pondok ini muncul pada 1992. Didirikan oleh Abdullah Sungkar, tokoh dari Pesantren Ngruki, Jawa Tengah. Mukhlas alias Ali Ghufron --juga dari Pondok Ngruki-- ditunjuk memimpin pondok Luqmanul Hakiem. Materi pendidikan di sini meniru Pesantren Ngruki yang didirikan Abubakar Ba'asyir.

Pada 1993 berdirilah Jamaah Islamiyah, Luqmanul Hakiem menjadi Mantiqi I, pengendali JI untuk wilayah Malaysia, Brunei dan Singapura. JI disebut-sebut berhubungan Al-Qaedah yang dipimpin Osama bin Laden, Mujahidin  Afghanistan dan Moro selama kurun waktu 1985-2000. Tetapi hubungan organisasi ini pada ideologis, bukan dalam struktur organisasi.

Tokoh terorisme seperti Hambali, Mukhlas, Amrozi, Ali Imron, Zulkarnaen, Faturrahman al-Ghozi, Dulmatin, Imam Samudra, dan Azhari Husni berada di JI. Setidaknya di sini pernah belajar 350 santri. Adapun Noordin, mulai datang ke Luqmanul Hakiem sejak 1995. Waktu itu dia masih mahasiswa Universiti Teknologi Malaysia yang mengidolakan pentolan Al-Qaedah.

Belakangan dia juga ikut belajar di sini, hingga kemudian menjadi guru. Pada 1998, Luqmanul Hakiem memerlukan warga negara Malaysia untuk menjadi kepala sekolah, Noordin lah orang yang ditunjuk. Tetapi operasional pondok tetap dikendalikan Mukhlas. Namun, pemerintah Malaysia tak menerima kehadiran JI. Bahkan, pada 2001 aparat keamanan di sana menguber-uber anggota JI. Akhirnya usia Luqmanul Hakiem tamat awal 2002.

Pentolan JI Mantiqi I cerai berai. Mereka masuk ke Indonesia. Noordin menyeeberang ke Riau awal 2002. Dia moboyong isteri dan iparnya, Muhammad Rais, bermukim di Desa Pendekar Bahar, Bangko, Rokan Hilir, Riau. Setengah tahun di sini, Noordin pindah ke Bukittinggi, Sumatera Barat. Mereka membuka bengkel mobil.

Dari Bukittinggi, Noordin dan kelompok JI merancang berbagai teror. kepada pengikutnya, dia berdalil harus melakukan bom sedang sedang diserang musuh-musuhnya. Ketika beraksi dia menggunakan nama sandi Aiman, ini adalah penggalan nama nama orang kedua di Al Qaeda yaitu Aiman Zawaheri.  (Bersambung)

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pelatih Arema FC, Marcos Santos

Kata-kata Berkelas Pelatih Arema FC usai Singo Edan Bangkit dari Ketertinggalan 0-2 Lawan Bhayangkara FC

Kata-kata berkelas pelatih Arema FC Marcos Santos usai Singo Edan bangkit dari ketertinggalan 0-2 dan menahan imbang Bhayangkara FC 2-2, sekaligus menyoroti mentalitas

img_title
VIVA.co.id
10 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut