Cara Nekat Ayah Balas Dendam Sakit Hati Kematian Bayinya
VIVA.co.id – Pelaku peneror bom Rumah Sakit Myria Palembang pada Senin 11 Juli 2016 telah dibekuk petugas dari jajaran Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Sumatera Selatan.
Pelaku diketahui bernama Noperdiansyah (34 tahun), warga Talang Betutu, Kecamatan Sukarame, Palembang.
Direktur Direskrimum Polda Sumsel, Kombes Pol Daniel Monang Tahi Silitonga, mengatakan, tersangka baru bisa ditangkap setelah melakukan penyelidikan cukup rumit yang memakan waktu satu pekan sejak peristiwa itu terjadi.
Petugas baru berhasil melacak keberadaan tersangka setelah mendapatkan posisi sinyal telepon genggam tersangka. Polisi melakukan penyergapan, Senin 18 Juli 2016 kemarin, di tempat tersangka bekerja di kawasan Jalan Ayin, Kelurahan Sukamaju, Kecamatan Sako, Palembang.
"Dari operator seluler yang dipakai tersangka juga membantu kita, sehingga tersangka bisa dilacak dan ditangkap. Tersangka adalah mantan keluarga pasien Rumah Sakit Myria," kata Daniel, saat gelar perkara di Mapolda Sumsel, Kamis 21 Juli 2016.
Daniel menuturkan, dari tersangka diamankan barang bukti berupa satu unit telepon genggam jenis Samsung yang digunakan tersangka untuk melayangkan teror. Dari hasil penyelidikan, tersangka mengaku memiliki alasan khusus hingga akhirnya nekat mengirim teror bom ke rumah sakit itu.
"Motifnya sakit hati karena bayi pelaku meninggal di kandungan istrinya saat dirawat di rumah sakit pada 2015 lalu," ujar Daniel.
Selanjutnya... Diejek Teman Tak akan Punya Anak Lagi...
Diejek Teman Tak akan Punya Anak Lagi
Noperdiansyah menceritakan, pada 2015, istrinya mengalami kecelakaan di kawasan Jembatan Ampera. Satu bulan pascakecelakaan, istrinya mengalami kontraksi perut hingga harus dilarikan ke Rumah Sakit Myria.
Ketika dirawat, pihak Rumah Sakit Myria memvonis jika janin istrinya telah meninggal. "Pihak rumah sakit bilang, anak saya meninggal di kandungan. Kalau pun bisa diselamatkan, harus dibawa ke Singapura. Saya ini cuma sopir mobil truk. Itu yang membuat saya sakit hati," kata Noperdiansyah.
Selain kehilangan anak, sang istri pun harus merelakan rahimnya diangkat sehingga Noperdiansyah tak bisa lagi mendapatkan keturunan.
"Kami sudah menikah empat tahun dan belum ada anak. Itu adalah calon anak kami pertama, dan harus meninggal. Saya sangat terpukul," ujarnya.