Korban Banjir Sampang Kelaparan

Warga melintasi banjir yang menggenangi Jalan utama di Kabupaten Sampang, Jawa Timur, Minggu (25/9/2016).
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Saiful Bahri

VIVA.co.id – Sejumlah korban bencana banjir Sampang di Jawa Timur mengalami kelaparan. Ini ditengarai oleh terlambatnya distribusi bantuan makanan siap konsumsi di daerah itu.

img_title Prabowo Tekad Perkuat Mitigasi Bencana, Siapkan Investasi Besar dan Ratusan Helikopter

Mariam (42), warga Desa Gunung Maddah Sampang, mengaku sejak Minggu, 25 September 2016. Dirinya belum pernah menerima bantuan apa pun. Karena itu, ia dan sejumlah korban lainnya akhirnya terpaksa bertahan seadanya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Bagaimana tidak kelaparan, kami tidak bisa bekerja, tapi persediaan makanan terus menipis," kata Mariam, Selasa, 27 September 2016.

img_title Ustaz Adi Hidayat Ajak Taubat Nasional, Introspeksi Diri di Tengah Banyak Bencana Alam

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sampang, mengakui telah mendistribusikan makanan siap konsumsi berupa nasi bungkus untuk para korban banjir Sampang.

Ia tak menampik jika kadang bantuan itu bisa tidak tepat sasaran akibat minimnya pengawasan. "Kadang memang bantuannya belum sampai di tujuan, atau baru di tengah jalan sudah ada warga yang meminta nasinya," kata Kepala BPBD Sampang Wisnu Hartono.

img_title Boni Hargens: Kapolri Selalu Hadir Terdepan Bantu Masyarakat yang Terkena Bencana Alam

"Nanti akan kami usahakan lagi agar benar-benar tepat pada sasarannya."

Bencana banjir Sampang terjadi sejak Minggu, 25 September 2016. Setidaknya ada delapan desa yang terendam dan ratusan orang menjadi korban dan terpaksa diungsikan.

Normalisasi Sungai

Sementara itu, di Kabupaten Garut Jawa Barat, sebagai langkah pencegahan agar tidak lagi terjadi bencana banjir bandang di daerah itu.

Pemerintah setempat berencana akan melakukan normalisasi Sungai Cimanuk dengan melakukan pelebaran penampang sungai. Sebab sebelumnya lebar Sunagi Cimanuk mencapai 80 meter. Sekarang hanya tersisa 40 meter.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Ini perlu adanya normalisasi Sungai Cimanuk untuk mengatasi resiko luapan air," kata Wakil Bupati Garut Helmi Budiman.

Karena itu, untuk proses relokasi direncanakan kepada seluruh warga yang bermukim di tanah timbul, milik Balai besar Wilayah Sungai (BBWS) atau yang bermukim di bantaran akan direlokasi. "Ini yang sedang kami bahas lokasi untuk merelokasi warga agar menjauh dari bantaran sungai," katanya.

inDrive.

Menembus Akses Sulit di Flores

Bencana alam tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga membawa tantangan panjang bagi masyarakat yang terdampak. Seperti yang dialami warga Flores, NTT.

img_title
VIVA.co.id
25 September 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut