Pendekatan Budaya dan Agama untuk Melawan terorisme

Wakil Presiden Jusuf Kalla meninjau pameran bersama Presiden Interpol Mireille Ballestrazzi (tengah) usai membuka Sidang Umum ke 85 Interpol di Nusa Dua, Bali, Senin (7/11/2016)
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana

VIVA.co.id – Pemerintah memastikan menggunakan strategi pendekatan agama dan kebudayaan untuk melawan penyebaran paham terorisme di Indonesia. Langkah itu akan menjadi prioritas selain melakukan penindakan terhadap para pelakunya.

img_title Menjaga Toleransi dan Merawat Keberagaman Lewat Kolaborasi Komunitas

"Indonesia berkomitmen mendorong pendekatan sotf power, pendekatan budaya dan agama, di samping melakukan penegakan hard power," ujar Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam sambutannya di Sidang Umum Interpol di Nusa Dua Bali, Senin, 7 November 2016.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut Jusuf Kalla, Indonesia saat ini telah menjadi laboratorium hidup untuk melihat perkembangan agama Islam, sistem demokrasi dan toleransi oleh berbagai dunia.

img_title Pancasila Kunci Memulihkan Kepercayaan Sosial di Tengah Krisis Global

Karena itu, selain terus menyebar nilai-nilai toleransi, pemerintah juga terus menggencarkan aksi pencegahan tindak terorisme.

"Kampanye terhadap itu melibatkan ulama besar melalui berbagai media. Pendampingan para mantan napi terorisme serta pemblokiran situs-situs propaganda kelompok radikal juga dilakukan," katanya.

img_title Kisah Toleransi dari Pulau Buru: Sekolah Islam Mendidik 3 Siswa Penghayat Animisme

Perangi kejahatan siber
Di bagian lain, dalam sambutannya Jusuf Kalla juga menyoroti perihal kejahatan lain yang kini makin terorganisir di berbagai dunia.

Itu meliputi, perdagangan narkoba, manusia, senjata, lalu perjudian, korupsi, kejahatan perbankan dan kejahatan lingkungan. "Kejahatan ini melibatkan modal besar serta mengindikasikan adanya penyalahgunaan kekuasaan dari berbagai pihak," kata JK.

Sejauh ini, ia menilai selama 100 tahun terakhir, kerja sama di antara penegak hukum, terutama kepolisian internasional telah menjadi lebih kuat. Namun demikian, di saat yang sama tindakan kejahatan semakin melampaui batas negara dan berkembang secara signifikan.

"Sementara teknologi dan peralatan kepolisian masih terbatas untuk beberapa negara tertentu. Oleh karena itu Nasional Central Biro telah menjadi urat nadi Interpol," katanya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

?Karena itu, ia pun juga menekankan perlunya perhatian terhadap kejahatan di dunia maya. Sebab ia menyentuh seluruh aspek seperti penipuan, lelang online, pemalsuan cek, penipuan kartu kredit, penipuan identitas, pornografi anak dan lainnya.

"Sudah saatnya kita memerangi kejahatan cyber dengan lebih intens dan butuh gerakan global," kata Jusuf Kalla.

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas)

Tak Ada Toleransi, Zulhas Tegaskan Petugas MBG Tak Bertanggung Jawab Bakal Dipecat

Menko Zulhas menegaskan bahwa tidak ada toleransi terhadap petugas Program MBG, yang tidak bertanggung jawab dalam penyediaan makanan bagi para penerima manfaat MBG.

img_title
VIVA.co.id
4 September 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut