Menteri Minta Budaya Indonesia Segera Dipaten

VIVAnews - Menteri Kebudayaan dan Pariwisata meminta pelaku kebudayaan dan pemerintah daerah untuk segera mempatenkan karya budaya asal Indonesia. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) juga telah bekerja sama dengan Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk memproteksi karya budaya asal Indonesia.

Hal ini dikatakan Jero Wacik di kantornya, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Senin 24 Agustus 2009. "Kami sudah bikin pola proteksi dengan Menkumham untuk proteksi karya budaya. Dengan cara mempermudah (hak paten) karya-karya budaya Indonesia," kata dia.

Karena itu Jero berharap pelaku kebudayaan Indonesia segera mendaftarkan hasil karya budayanya untuk mendapatkan hak paten. "Jadi kalau ada klaim dapat segera diselesaikan, karena sudah kita daftarkan," kata dia.

Depbudpar, kata Jero, juga sudah memberikan edaran ke para gubernur dan kepala daerah untuk mendaftarkan karya budaya di daerah tersebut sebagai kebudayaan daerah. "Contohnya rumah Toraja. Itu karya kolektif masyarakat Toraja. Pemda cepat-cepat daftarkan itu sebagai karya kolektif," ucap Jero.

Saat ini, tambah Jero, Pemerintah juga sedang mengusahakan agar Batik dan Angklung terdaftar sebagai International Heritage versi Unesco. Jero memperkirakan dalam rapat terakhir Unesco di Abu Dhabi September nanti, Batik secara resmi akan diakui milik Indonesia. "Namun angklung masih dalam proses penelitian. Apa ada di prasasti-prasasti atau lontar-lontar di Jawa Barat. Harus ada buktinya," ucap Jero.

Apabila berhasil terdaftar sebagai International Heritage versi Unesco, maka Batik dan Angklung segera menyusul Wayang dan Keris. Wayang sudah terdaftar oleh Unesco sebagai Intangible Heritage tahun 2003. Sedangkan Keris diakui Unesco sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity.