Dua Penari Beraksi di Depan Hakim MK

VIVAnews - Uji Materiil Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi di Mahkamah Konstitusi diwarnai peragaan tarian. Tarian itu dimaksudkan untuk mendukung keterangan ahli yang diajukan oleh para pemohon.

Sidang digelar diruang sidang MK, Jakarta, Kamis 27 Agustus 2009. Dua penari wanita menarikan tari Tumatenden di depan persidangan. Dengan diiringi alunan musik, dua penari beraksi, berputar-putar di depan ruang sidang.

Dua penari wanita ini mengenakan busana yang memperlihatkan lekuk tubuh dan belahan rok, yang lumayan tinggi. Tumatenden, yang berasal dari Minahasa ini menceritakan menceritakan sembilan puteri kayangan yang sedang mandi.

Namun, kemudian datang seorang pemuda, Mamanoa yang mencuri selendang salah satu puteri, Lumalundung sehingga tidak bisa kembali ke kayangan. Usai peragaan Ketua Majelis Hakim membuka sesi pertanyaan dengan gurauan.

"Ini saya lihat Pak Wirawan Adnan memotret penari habis-habisan," kata Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD saat memimpin sidang. Ucapan Mahfud pun mendapat sambutan tawa dari seluruh pengunjung sidang.

Kemudian Mahfud mempersilakan ahli untuk menerangkan tarian itu dalam konteks UU Pornografi. "Bagaimana, apakah tarian itu bisa dikatakan sebagai pornografi?" tanya dia.

Permohonan uji materi UU Pornografi ini diajukan 47 pemohon yang terdiri dari Kesatuan Hukum Adat dari daerah Sulawesi Utara, sejumlah LSM, Pekerja Seni dan individu yang merasa hak konstitusionalnya dirugikan dengan berlakunya UU ini.

Pasal-pasal yang digugat dalam uji materiil ini adalah Pasal 1 Angka 1, Pasal 4 Ayat 1, Pasal 10, Pasal 20, Pasal 21, Pasal 23, dan Pasal 43 UU Pornografi. Para pemohon mendalilkan pasal-pasal dalam UU Pornografi ini telah mengabaikan prinsip demokrasi, kebhinekaan, dan diskriminatif. Sehingga UU Pornografi dianggap bertentangan dengan UUD 1945.

ismoko.widjaya@vivanews.com