Nasib Ismail dan Si Tapal Kuda
- VIVA.co.id/Aji YK
"Yang mati dijual borongan. Banyak untuk memancing. Yang hidup, perekornya Rp15 ribu tapi harus ada telur," kata Ismail. Dalam sehari, lelaki ini mampu memgumpulkan sedikitnya 50 ekor Bungkak.
Ketidaktahuan
Sejatinya, Bungkak atau kepiting Tapal Kuda (Horse Shoe Crab) adalah hewan yang dilindungi. Masifnya perburuan dan penyelundupan hewan purba ini, menjadi masalah pelik yang dihadapi pemerintah.
Konon, Bungkak atau yang juga kadang dikenal dengan sebutan Belangkas memang sudah populer di Eropa, dan beberapa negara lain. Hewan berbentuk ladam ini menjadi salah satu jenis yang biasa digunakan untuk kepentingan pengobatan.
Selain itu, tentunya daging kepiting tapal kuda memang tak bisa diragukan kelezatannya. Asam pedas dan sambal tumis dari telur dan daging Belangkas bahkan sudah menjadi menu favorit bagi warga di Johor Malaysia.
Ismail pun mengakui kepiting Tapal Kuda, bukan untuk dipasarkan di dalam negeri. Sebab, pemasaran Bungkak di Indonesia memang tidak menjanjikan. Bahkan bagi nelayan, kepiting purba ini cuma digunakan untuk umpan pancing.
Karena itu, ia pun tak mengetahui jika kepiting itu dilindungi. Baginya, saat ini, kepiting umpan pancing itu kini laku dan ada yang mau menerimanya. Soal dilindungi atau tidak, lain urusan.
![]()
FOTO: Penggunaan kepiting tapal kuda atau Belangkas untuk keperluan pengujian medis
"Pengepul jual ke luar. Kalau di sini tidak laku, hanya untuk umpan mancing saja. Bungkak yang mati dijual Rp20 ribu satu box," katanya.
Sejauh ini, upaya edukasi kepada warga bahwa penangkapan Kepiting Bungkak, masih terus dioptimalkan. Ketidaktahuan warga menjadi ancaman nyata bahwa binatang yang dikategorikan purba itu bisa terancam punah.
"Memang di Taman Nasional Sembilang ini, masih ada perburuan liar dan alih fungsi lahan. Makanya kita akan lakukan sosialisasi ke masyarakat dan menjadi mediator," kata Hari Priyadi publik, sektor manager Zoological Society of London (ZSL).
Ya, perlu upaya serius mencegah ancaman kepunahan Kepiting Tapal Kuda. Jalan hidup warga seperti yang dialami Ismail yang dibelit kemiskinan, bisa menjadi pemicu meluasnya praktik penangkapan kepiting langka tersebut.