Surat Terbuka Menteri Agama untuk Netizen

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

Sayangnya, kondisi begini terjadi tanpa disadari. Persis ungkapan tokoh sufi Imam Al Ghazali, "Penyakit hati itu laksana belang di wajah seseorang yang tak punya cermin. Jika diberitahu orang lain pun, mungkin ia tak mempercayainya." Pada suasana batin tertentu, kebenaran tak lagi jadi penentu. Sebaliknya, segala alasan dicari untuk membenarkan tindakan yang telanjur salah.

img_title Medsos Bisa Jadi Sarana Lawan Antivaksin

Dalam kondisi begini, marilah mengingat sebuah kisah hikmah. Iblis awalnya dikenal sebagai makhluk yang paling hebat beribadah, tapi justru dilaknat oleh Tuhan Sang Pemberi Berkah. Sebabnya satu saja, hati iblis diliputi penyakit bernama sombong: merasa lebih mulia daripada Adam. Dalam kajian semantik, sombong didefinisikan menolak kebenaran dan meremehkan orang (Al-kibru batharul haqqi wa ghamtun naas). Semoga kita terhindar dari perilaku iblis yang sok suci.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Saudara-saudariku sekalian,

img_title Drone dan Media Sosial, Ancaman Terbesar di 2018

Kita semua sesungguhnya bersaudara. Saling terkait dalam tubuh seperti hubungan kaki, tangan, kepala, dan anggota badan lainnya. Jika salah satunya sakit, yang lain turut merasakannya. Karena itu, marilah berlatih empati agar selalu ingat pada keadilan Ilahi. Sesama saudara, janganlah mencaci jika tak ingin dibenci. Jangan pula memfitnah karena bakal terkena tulah. Bersikaplah bijak agar sadar dimana tempat berpijak.

Di zaman digital, persaingan global makin bersifat total. Jika ingin jadi bangsa handal, tiada pilihan kecuali meningkatkan kualitas diri secara optimal. Jadikan air bah informasi sebagai modal produktif menuju level lebih tinggi. Manfaatkan jejaring sosial untuk bersinergi meningkatkan produktivitas dan mencapai kesejahteraan bersama. Janganlah puas hanya menjadi generasi pemangsa berita bohong, penyantap kabar burung atau penikmat konten negatif lainnya.

img_title Geng Selebriti, Sekadar Eksis?

Di era kebebasan berpendapat dan bermedsos ria, berempati dan menggunakan rasa makin perlu dilakukan bersama. Setidaknya untuk menjaga kata-kata agar tak melukai sesama. Aksi menebar kabar hoax bukanlah sedekah yang berpahala. Sebaliknya, itu menabur benih keburukan yang akan kembali pada diri kita semua. Kegemaran copas (copy-paste) tidaklah terpuji karena bisa mematikan kreativitas semua kita. Di sisi lain memanipulasi pesan dan mendistorsi informasi untuk memantik emosi termasuk perbuatan tak terpuji. Berkomentar di medsos tanpa memperhitungkan dampaknya juga mestinya dihindari. Melatih empati, dengan berpikir bahwa orang lain bisa terluka karena kalimat kita di ranah maya, sama artinya melatih diri untuk menjaga hati.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut