Indonesia-Malaysia, Serumpun Beda Nasib
Namun tidak sedikit pula peran ekspatriat Indonesia berkeahlian tinggi dalam memajukan perusahaan dan BUMN Malaysia sehingga banyak diantaranya berubah menjadi perusahaan kelas dunia. "Jika ada 10 penentu kebijakan di Petronas, enam dari 10 orang itu adalah warga Indonesia," kata Da'i Bakhtiar, Duta Besar Malaysia, seperti dikutip Adi Lazuardi.
Secara nasional, ekonomi Indonesia lebih besar daripada Malaysia sehingga membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bisa duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan 19 pemimpin negara ekonomi kuat lainnya termasuk Amerika Serikat dan Jerman yang tergabung dalam G20.
Namun secara pendapatan perkapita, CIA World Factbook merilis Malaysia empat kali lebih besar daripada Indonesia. Malaysia memiliki US$ 15.300, sementara Indonesia US$ 3.900. Artinya, rata-rata penduduk Malaysia lebih makmur daripada Indonesia. "Saya berpuas hati karena dilahirkan di Malaysia karena Malaysia adalah negara yang maju dibandingkan dengan Indonesia," kata Eva, sepupu saya.
Eva memang pantas berbangga hati. Adi Lazuardi menulis perusahaan dan BUMN Malaysia berkembang menjadi perusahaan kelas dunia yang bahkan ikut merambah masuk ke Indonesia. Infrastruktur ekonomi Malaysia sangat bagus, jalan raya membentang mulus seantero negeri. 2020, Malaysia menargetkan diri sebagai negara jasa dengan infrastruktur ekonomi sekelas negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika.
Sebagai negara berorientasi jasa, pariwisata merupakan salah satu sektor yang menjadi perhatian Malaysia. Pada 2008, Malaysia menganggarkan US$ 100 juta untuk mempromosikan wisatanya. Sementara Indonesia, tahun yang sama, baru menaikkan anggarannya ke angka Rp 340 miliar atau sepertiga anggaran Malaysia. Anggaran yang besar untuk sektor pariwisata ini pula yang memicu kontroversi terbaru hubungan Indonesia-Malaysia: sebuah iklan pariwisata Malaysia menggunakan tari khas Bali, Tari Pendet, tayang di Discovery Channel.
"Apakah benar-benar berarti jika nenek moyang seseorang datang dari India, China atau Indonesia? Apakah benar-benar berarti jika sebuah keluarga pertama kali bermukim di Malaysia 2.000 tahun lalu atau 20 tahun lalu?"
Itulah pertanyaan yang diajukan Neil Khor, kolumnis di Malaysiakini.com. Pengamat sosial-sejarah kelahiran Penang, Malaysia, ini menggugat konsep "Warga Malaysia" berdasarkan etnis dan sudah beberapa generasi menetap di Malaysia. Sebuah penelitian genetika menemukan Negrito yang sekarang terpencil di utara Malaysia adalah penghuni pertama Malaysia, sebelum digantikan Melayu Muda. Hasil riset ini, kata Neil, membuktikan konsep bumiputera tak bisa lagi dipertahankan. "Yang penting adalah kesetiaan pada negara dan komitmen pada Malaysia, komunitas impian kita," ujar pria bernama asli Khor Jin Keong itu.
Malaysia memang dihadapkan pada ketegangan etnis karena kebijakan ekonomi dan politik negara yang cenderung menguntungkan kubu Melayu yang umumnya beragama Islam. Tiga hari sebelum peringatan Hari Kemerdekaan Malaysia ke-52 tahun, muncul demonstrasi massa yang menolak pendirian kuil Hindu di negara bagian Selangor. Demonstrasi puluhan umat Islam ini sambil menenteng kepala sapi, hewan yang disucikan umat Hindu yang minoritas di Malaysia. Jelas etnis India dan China yang minoritas tersinggung. Ketegangan ini membuat "komunitas impian" Malaysia berada dalam krisis identitas karena di satu sisi adalah negara Islam, sementara di sisi lain adalah negara yang beraneka ragam sesuai slogannya, Unity in Diversity.
Belum lagi problem Melayu yang berjumlah 60 persen dari 28 juta penduduk yang sebagian besarnya adalah keturunan Indonesia. Dominasi Melayu dengan begitu berarti dominasi "Indonesia" menimbulkan konflik baru pula dengan tetangga Indonesia. Kebudayaan yang mereka bawa dari tanah air sebelumnya memunculkan kecemburuan dari jirannya. Padahal, "sepatutnya Indonesia berbangga karena Malaysia mengikuti irama dan rentak lagu Indonesia," kata Eva, sepupu saya yang masih berusia 19 tahun itu. "Ia memang budaya Malaysia juga, lagipun kita menggunakan bahasa yang lebih kurang sama," katanya.
Sementara, pendidikan nasionalisme yang intensif melalui sekolah dan media di Indonesia, telah berhasil pula menciptakan generasi "Komunitas Impian" Indonesia. Ditambah dengan kecemburuan karena ketimpangan ekonomi, dengan gampang pula "nasionalisme" itu terbakar. Lekat pulalah cap Malingsia, tanpa pernah tahu sebenarnya juga mereka, Malaysia, dalam hal tertentu juga berhak menggunakan kebudayaan yang sama dengan kita. []