Harus Berapa Boisman Gori untuk Peduli?

Boisman Gori, siswa kelas 5 SD asal Pulau Nias yang bersekolah sembari menggendong adik lelakinya.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Instagram @indrirose

Polanya serupa Anggit juga mengunggah foto siswa SD di tempatnya mengajar yang tidak bersepatu dan menggunakan tas dari kantong kresek.

img_title 2 Tahun Prabowo-Gibran Tunjangan Guru Naik 16.167 Sekolah Direvitalisasi, 44.000 Siswa Ikuti Sekolah Rakyat

"Mereka layak meraih cita-cita yang selama ini membuat mereka bertahan ke sekolah dalam kondisi seragam lusuh dan memakai tas kresek bekas!!!" tulis Anggit dalam foto yang disertakannya di laman Instagram dikutip VIVA.co.id, Kamis, 6 April 2017.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Apa yang diunggah Anggit pun menuai respons. Bahkan Presiden Joko Widodo ikut membantu dengan mengirimkan sejumlah bantuan ke sekolah yang berada di pelosok tersebut.

img_title Biaya Pendidikan dan Persaingan Kerja Jadi Tantangan bagi Generasi Muda

Sejak itu, nama Sungkung yang awalnya tak pernah didengar menjadi sedikit muncul ke permukaan. Perjuangan Anggit yang sederhana membuahkan hasil.
Ya setidaknya Anggit dan Indri telah meringankan sedikit beban para siswa miskin tersebut. Perjuangan mereka lewat media sosial menjadi pelajaran penting bahwa mereka yang dermawan itu banyak dan perlu diberi tahu.

Selain itu, faktanya cuma lewat media sosial dan digunjingkan orang banyak, mereka yang kesusahan di daerah baru mendapatkan perhatian. Dan pastinya, unggahan di media sosial itu adalah fakta nyata yang menyedihkan tentang anak-anak di pinggiran kota.

img_title 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Bakom Klaim Kemiskinan Turun Jadi 8,07 Persen

Jangan Tunggu Medsos
Lalu cukupkah dengan respons memberi bantuan kepada anak-anak itu? Bisa dipastikan tidak.

Potret kemiskinan dan buramnya pendidikan di Indonesia bukan cuma di Pulau Nias dan Sungkung Kalimantan Barat. Perlu lebih banyak lagi orang seperti Indri dan Anggit yang mengunggah fakta kelam itu ke permukaan.

Merujuk pada Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pada tahun 2015/2016, sebanyak hampir satu juta anak Indonesia putus sekolah saat masih di bangku SD. Penyebabnya cuma satu, yakni ekonomi.

"Dari survei BPS (Badan Pusat Statistik), 73 persen kasus putus sekolah ditengarai oleh faktor ekonomi," Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hamid Muhammad, awal September tahun lalu.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Anies Baswedan, sebelum diberhentikan menjadi Menteri Pendidikan Dasar, Menengah dan Kebudayaan, bahkan pernah menyebut di Indonesia saat ini ada lebih dari 15 juta anak miskin tersebar di seluruh Indonesia.

Karena itu, jelas potret kemiskinan di daerah pedalaman bukanlah hal yang bisa diabaikan begitu saja. Sosok Boisman Gori di Pulau Nias cuma seujung kuku dari mereka yang tak pernah terungkap di media sosial.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut