Dari Kampung TKW ke Desa Batik
- VIVA.co.id/Dwi Royanto
Berdayakan TKW
![]()
FOTO: Perempuan mantan Tenaga Kerja Wanita (TKW) di luar negeri di Desa Jamberarum Kendal mempraktikkan ilmu membatik, Jumat (7/7/2017)
Julukan desa TKW di Kembangarum, rupanya menjadi keprihatinan sendiri bagi Sri Lestari. Warga asli yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kendal itu, lalu berinisiatif mengubah stigma itu dengan berbagai inovasi.
Sri lantas mencetuskan membuat keterampilan bagi ibu-ibu TKW. Idenya dengan memberdayakan pelatihan membatik tulis khas desanya. Usaha yang dirintis sejak 2010 silam itu, awalnya hanya diikuti oleh 15 perempuan. Seluruhnya, merupakan mantan TKW yang puluhan tahun mengais dolar di negeri seberang.
UMKM batik itu bernama batik Jambe Kusuma. Hingga sekitar tahun 2013 lalu, hasil batik ibu-ibu itu sempat berbuah manis. Berbagai corak batik berikut pernak-pernik yang dihasilkan telah berjalan cukup baik. Batik buatan desa ini, sudah dijual ke berbagai daerah di Indonesia, bahkan diekspor ke beberapa negara tetangga.
Desa Jambearum juga sempat ditetapkan sebagai desa batik oleh Dirjen Kementerian Pariwisata dan Dinas Pariwisata Jawa Tengah. Beberapa kali, usaha itu sempat mendapatkan penghargaan dari pemerintah hingga Desanya ditetapkan sebagai desa vokasi.
"Gara-gara ada batik ini, nama Desa Jambearum jadi terangkat. Pak Gubernur pernah kemari buat memesan batik. Begitu pula, dari pejabat kementerian. Saya berharap, warga senantiasa menghidupkan usaha batik ini dan tidak lagi merantau luar negeri," kata Sri.
Meski usaha itu masih berjalan, namun Sri mengaku jumlah ibu-ibu yang turut bergabung dalam Kelompok Usaha Batik Jambe Kusuma kini berangsur berkurang. Alasannya pun klasik, masih banyak wanita muda yang tergiur dolar di luar negeri.
"Sebenarnya, tujuannya memang pemberdayaan, agar warga tak balik lagi ke luar negeri. Namun, mereka enggak sabaran. Karena, menganggap prosesnya terlalu lama dan banyak yang ketagihan dapat dolar, maka ya mereka balik lagi ke sana," katanya.
Kondisi itu pun sempat membuat Sri kebingungan. Apalagi, order batik yang kerap mengalir cukup deras. Baik dari kalangan dinas-dinas maupun dari perusahaan-perusahaan tertentu.