Jemaah Haji Indonesia Harus Pasrah
- H Eko Priliawito - VIVA.co.id
VIVA.co.id – Anggota Amirul Hajj, KH Musthofa Aqil, meminta kepada jemaah haji Indonesia selalu pasrah atau lillah saat menjalankan ibadah haji.
Salah satu Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu mengatakan, haji adalah ibadah yang luar biasa. Karena sejak awal sampai akhir pelaksanaanya terdapat kepasarahan.
"Lillah artinya pasrah (hanya karena Allah)," katanya saat bertemu dengan seluruh petugas haji dari Kelompok Bimbingan Ibadah (KBIH) dan Tim Pemandu Haji Indonesia (TPHI) Rabu malam, 23 Agustus 2017.
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu mengharapkan agar seluruh konsultan ibadah yang menjadi mitra utama Kementerian Agama dalam memberikan pelayanan ibadah kepada jemaah, harus menekan nilai pasrah ini.
Menurutnya, pasrah dalam haji tidak sama dengan saat kita salat. Pasrah dalam berhaji sudah harus ada sejak kita meninggalkan keluarga dalam waktu lama. Kepasrahan lain menurutnya, karena tidak ada perbuatan dalam haji yang masuk akal.
"Jutaan manusia melempar jumrah, pasrah tidak boleh bertanya kenapa harus melempar batu," katanya.
Lillah ketiga adalah perintah haji merupakan perintah napak tilas perjalanan Nabi Ibrahim. Hanya Nabi Ibrahim yang mampu menyelesaikan ujian berat dengan sempurna, yakni menyembelih putranya.
Menurutnya, dalam haji ada sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang. Tetes dan air mata yang keluar saat berdoa di Kakbah karena memohon ampunan akan selalu jadi saksi keimanan kita saat nanti di yaumul akhir. "Tidak bisa dibeli air mata itu dengan uang," ujarnya.
Musthofa mengajak jemaah selalu memohon ampunan dari Allah saat wukuf di Arafah. Karena dalam setiap ampunan Allah akan selalu ada rahmat. Tuhan akan menurukan rahmat sesuai dengan kebutuhan masing-masing orang.
"Masuk surga melalui rahmat, dan rahmat didapat melalui ampunan," katanya.
Kyai Cirebon yang akrab disapa Kang Muh mengajak jemaah haji Indonesia untuk tidak melakukan perbuatan rafatsa, fusuq, dan jidal. Katanya, ada tiga cara untuk menghindari perbuatan itu.
“Jangan merasa paling benar, jangan merasa paling pintar, dan jangan merasa kaya,” katanya.
Kyai Musthofa Aqil berkisah bahwa Nabi Adam kembali diterima doanya, setelah merasa salah. Setelah itu, Nabi Adam kembali dipertemukan dengan Siti Hawa di Jabal Rahmah.
“Jadi jangan merasa paling benar,” tuturnya.