Masyarakat Antikomunis: Kivlan Zen Pantau Aksi di YLBHI

Aksi pengepungan kantor YLBHI oleh sekelompok massa pada Minggu malam, 17 September 2017.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

VIVA.co.id – Koordinator Aksi Masyarakat Antikomunis, Rahmat Himran, memastikan bahwa ada keterlibatan Mayjend (Purn) Kivlan Zen dalam aksi massa di kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta dan YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia) akhir pekan lalu.

img_title YLBHI Minta Polri Ungkap Aktor Intelektual di Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS

Keterlibatan mantan Kepala Staf Kostrad itu, disebut Rahmat, sudah sejak Sabtu, 16 September 2017. Ketika ada aksi pembubaran acara seminar sejarah 1965/1966 di LBH Jakarta, Kivlan bahkan menghadiri aksi itu langsung di lokasi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Jadi pada saat chaos (Minggu malam, 17 September) itu Bang Kivlan tidak ada di lokasi. Untuk demo hari pertama (Sabtu), iya. Beliau ada memantau langsung," kata Rahmat kepada VIVA.co.id, Selasa, 19 September 2017.

img_title Pemprov DKI Jakarta Resmi Hibahkan Gedung YLBHI, Pramono Ungkap Alasannya

Rahmat tak merinci alasan Kivlan tak hadir dalam aksi kedua. Ia hanya memastikan bahwa Kivlan hanya memilih tak hadir di aksi itu. "Kata dia (Kivlan), sudah tidak usah aksi lagi."

Atas itu, Rahmat membantah atas tudingan beberapa pihak bahwa Kivlan mendalangi aksi massa pada Minggu malam, 17 September 2017, yang kemudian berakhir bentrok dan melukai lima polisi serta puluhan lain terluka.

img_title Riset Gallup Sebut Indonesia Aman, Democracy Institute: Bukti Negara Lindungi Rakyat

"Kalau tuduhan terhadap Kivlan Zen seperti itu (mendalangi) tidak benar," ujarnya.

Berdalih Resmi

Mantan Kepala Staf Kostrad, Mayor Jenderal (purnawirawan) Kivlan Zen.

FOTO: Mayjend TNI (Purn) Kivlan Zen

Di bagian lain, Rahmat juga mengklaim bila aksi mereka yang menamakan diri sebagai Masyarakat Anti-Komunis di acara LBH Jakarta juga telah mendapat izin dari kepolisian.

Izin itu didapat mereka untuk dua hari aksi yakni, Sabtu, 16 September hingga Minggu, 17 September. "Jadi resmi loh, saya masukan surat ke Polda itu kan surat resmi. Jadi tidak ada hoaks dan lain-lain," ujarnya.

Diketahui sebelumnya, pada hari Sabtu 15 September 2017, sejumlah aktivis pegiat HAM bersama beberapa korban kejahatan 65 berencana membuat acara seminar sejarah 1965/1966.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Namun kegiatan tersebut dibubarkan paksa oleh aparat kepolisian karena tekanan masa aksi yang menganggap kegiatan tersebut terkait dengan kebangkitan komunis di Indonesia atau PKI.

Karena itu, lantaran dibubarkan, acara tersebut kembali dilanjutkan pada hari Minggu sore, 17 September 2017, para aktivis pegiat HAM kembali membuat acara Pentas Seni Budaya dengan tema 'Asik-Asik Aksi' dengan menampilkan sejumlah pertunjukan pentas seni dan puisi sebagai bentuk protes atas pembubaran acara seminar sejarah sehari sebelumnya yang dilakukan oleh aparat kepolisian. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut