Warga Trauma Peristiwa Letusan Besar Gunung Agung 1963

Pengungsi Gunung Agung di tempat evakuasi.
Pengungsi Gunung Agung di tempat evakuasi.
Sumber :
  • Viva.co.id/Bobby Andalan

VIVA.co.id – Sejumlah warga yang tinggal di sekitar Gunung Agung Bali memutuskan mengungsi, meski belum ada perintah. Besarnya letusan yang terjadi pada 1963 membuat mereka trauma.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, memaparkan, jumlah penduduk di kawasan rawan bencana Gunung Agung sesuai radius yang telah ditetapkan terdapat 49.485 jiwa.

Jumlah itu berasal dari enam desa di Kabupaten Karangasem yaitu Desa Jungutan, Kecamatan Bebandem, Desa Buana Giri, Kecamatan Bebandem, Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Desa Dukuh, Kecamatan Kubu, dan Desa Ban, Kecamatan Kubu.

Ia menjelaskan, Pemerintah Daerah Kabupaten Karangasem dan Pemerintah Provinsi Bali masih menyiapkan sarana dan prasarana pengungsian. "Titik pengungsian sudah ditetapkan. Pendirian tenda, MCK, dapur umum, logistik, kendaraan evakuasi dan lainnya masih terus disiapkan oleh berbagai pihak baik dari BPBD, TNI, Polri, SKPD, PMI, relawan dan lainnya," kata Sutopo, Kamis 21 September 2017.

Hingga kini, pendataan pengungsi terus dilakukan. Sebab, jumlah pengungsi terus bergerak naik. Meskipun kepala daerah setempat belum memerintahkan secara resmi mengungsi, pengungsi makin banyak.

Jumlah pengungsi terus bertambah mengingat belum semua data dilaporkan ke Pusdalops BPBD Bali. "Sebagian besar masyarakat mengungsi karena pengalaman masa lalu saat Gunung Agung meletus besar tahun 1963. Tanda-tanda yang mereka rasakan saat ini, yaitu gempa vulkanik yang sering terjadi saat ini mirip dengan kejadian sebelum Gunung Agung meletus tahun 1963," tutur Sutopo.

Saat itu, Sutopo memaparkan, letusan Gunung Agung berlangsung hampir selama setahun yaitu mulai 18 Februari 1963 hingga 27 Januari 1964. Korban tercatat 1.148 orang meninggal dan 296 orang luka.