Penting Mana, Perppu KPK atau RUU KUHP?

Presiden Joko Widodo.
Sumber :
  • VIVA/M Ali Wafa

VIVA – Beberapa waktu lalu, DKI Jakarta dihebohkan dengan adanya aksi demonstrasi yang dilakukan elemen mahasiswa dan pelajar. Mereka menyoroti dua hal, yakni pengesahan Revisi Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi dan RUU Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

img_title KPK Geledah DLH Klaten Terkait Kasus Korupsi Bupati Nonaktif Hamenang

RUU KPK sudah disahkan oleh DPR periode 2014-2019, sementara RKUHP sedianya akan dibahas di rapat anggota DPR masa kerja 2019-2024.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Terkait KPK, muncul desakan pada Presiden Jokowi untuk menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang atau Perppu. Namun, tim koalisi pendukung Jokowi menganggap hal itu belum diperlukan.

img_title Jokowi Jadi Magnet PSI, Target Tiga Besar Dibidik untuk Pemilu 2029

Alasannya, meski RUU KPK adalah usulan DPR, namun hal itu dibahas bersama dengan pemerintah. Jika Perppu keluar, maka dikhawatirkan berdampak negatif pada hubungan antara eksekutif dan legislatif.

"Implikasi politik ke depannya terhadap pemerintahan, jadi tidak bagus," ujar Anggota Majelis Pertimbangan Partai Nasdem, Taufiqul Hadi, dikutip dari VIVAnews, Sabtu 12 Oktober 2019.

img_title Peringati 98 Tahun Sumpah Pemuda, DPR RI Ajak Rawat Persatuan Lewat Kerja Nyata

Sementara itu, RKUHP dianggap lebih penting untuk dibahas dan direview secara total. Sebab, ada beberapa masalah fundamental yang harus dibahas secara menyeluruh. Mulai dari asas legalitas, hingga semangat untuk menjadikan hukum pidana menjadi solusi dari semua hal.

"Orang menjadi takut, negara bisa menjadikan kewenangannya untuk mengatur masyarakat dengan cara tangan hukum pidana. Tidak semua diselesaikan dengan pidana. Ada ruang penyelesaian masalah tidak melulu pidana. Bisa melalui perdata, atau administrasi," tutur Ketua DPP Partai Nasdem, Taufik Basari.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Hal lain yang tidak kalah penting, menurut Taufik, adalah tentang mens rea, yakni elemen mental dari niat seseorang untuk melakukan kejahatan.

“Mens rea menjadi ciri khas pidana. Jadi, ada satu perbuatan yang dianggap tidak cocok, tidak layak, harus dicek dulu ada kehendak jahat atau tidak," ungkapnya.

Wakil Menteri Imipas periode 2024–2026 Silmy Karim dalam sidang pembacaan surat dakwaan

JPU Ungkap Tarif 'Uang Loket' Izin Tinggal WNA, Tertinggi Rp8 Juta

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Achmad Husin Madya, mengungkapkan besaran 'uang loket' atau 'uang klik' dalam pengurusan izin tinggal WNA

img_title
VIVA.co.id
29 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut