Siapa Berani Jadi Oposisi?
- VIVA.co.id/Eduward Ambarita
"Oposisi ekstra parlementer ini akan bermunculan secara sporadis mengkritisi kinerja pemerintah, mengkritisi kinerja DPR yang cenderung sami'na wa atho'na (mendengar dan patuh dengan pemerintah)," terang Adi.
Oposisi dari Dalam
Adi menilai, kesimbangan politik di parlemen akan sulit terjadi, karena mayoritas dikuasai partai pendukung penguasa (the winner take all). Namun, dalam sistem presidensialisme multipartai ekstrim seperti Indonesia, ada kecenderungan oposisi justru muncul dari internal koalisi.
Berkaca pada periode kedua pemerintahan SBY, dimana partai koalisi pemerintah saat itu juga sangat dominan menguasai parlemen, tapi di tengah jalan muncul partai-partai pendukung SBY, seperti Golkar dan PKS, yang menjadi oposisi di internal koalisi, banyak kritik dan menolak kebijakan SBY.Â
"Persoalannya apakah oposisi dari dalam ini bisa dilakukan oleh partai koalisi Jokowi atau tidak, wallahualam," kata Adi.Â
Merujuk situasi politik terkini, Adi menenggarai benih-benih friksi di internal partai koalisi Jokowi-Ma'ruf sudah kentara. Karenanya, ia menduga oposisi yang muncul dari dalam ini juga akan terjadi di pemerintahan periode kedua Jokowi.
"Misalnya, ada tanda-tanda hubungan yang tidak harmonis antara 'Gondangdia' dan 'Teuku Umar' iya toh? Sepertinya, dalam sikap pilihan politik tertentu yang dianggap penting, strategis, yang partai-partai ini akan berbeda, nah itu akan jadi penanda, akan terjadi dinamika justru oposisi itu muncul dari internal pendukung Jokowi sendiri."Â