Modal Jokowi Efek, Aji Mumpung Gibran-Bobby

Gibran di Solo
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha/wsj

VIVA –  Pemilihan Kepala Daerah atau Pilkada 2020, masih sembilan bulan lagi. Namun, dinamika politik menuju pesta pilkada serentak gelombang empat itu sudah terasa kencang.

img_title Kuasa Hukum Beberkan Riwayat Pendidikan Gibran hingga S1, Ijazah Ditunjukkan di PTUN

Isu yang mencuat terkait majunya putra sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi), Gibran Rakabuming Raka untuk Pilkada Kota Solo. Lalu, menantu Jokowi, Bobby Afif Nasution, yang juga siap bersaing berebut posisi Wali Kota Medan. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Meski baru tahap pendaftaran dan belum mendapat rekomendasi resmi dari partai politik pengusung, keduanya jadi pusat perhatian. Alasannya, karena dua figur itu terkait dengan Jokowi yang masih aktif sebagai kepala negara. Jokowi juga baru hampir sebulan menjabat RI-1 di periode keduanya.

img_title Sumut Beri Beasiswa 20 Dokter Pendidikan Program Spesialis, Dorong Pelayanan Kesehatan di Kepulauan Nias

Direktur Eksekutif Parameter Indonesia, Adi Prayitno menekankan, memang siapapun, termasuk Gibran dan Bobby berhak maju jadi calon kepala daerah. Namun, yang menjadi persoalan, keduanya dianggap aji mumpung dengan figur Jokowi

"Cuma problemnya, majunya Gibran-Bobby akan menciptakan kompetisi yang tak seimbang. Keduanya sudah punya bekal electoral memadai, karena Jokowi effect. Sementara, kandidat lain harus memulai dari zero," kata Adi kepada VIVAnews, Minggu 15 Desember 2019.

img_title Ekspor Diperkuat, Komoditas Unggulan Sumut Senilai Rp258,9 Miliar Dikirim ke Berbagai Negara

Dia menganalisis, kemungkinan besar dengan modal sebagai anak-mantu Jokowi, dua figur itu bisa mendapatkan kemudahan dalam dukungan politik. Parpol selaku pengusung, juga kemungkinan akan pragmatis, karena berpikir potensi menang.

"Apalagi, niat nyalon pilkada, otomatis pasti banjir dukungan," tutur Adi.

Pengamat politik Universitas Al Azhar Indonesia, Ujang Komarudin menyebut, tak salah bila ada anggapan majunya Gibran-Bobby ini, berarti Jokowi memulai membangun oligarki dan dinasti politik. Meski di satu sisi, tak ada yang salah dengan kesiapan majunya Gibran-Bobby.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Kita masih ingat, dulu Jokowi pernah bilang, keluarganya tak akan berpolitik. Tetapi, saat ini, berpolitik. Mungkin, karena enak dan nikmatnya kekuasaan. Politik menjadi jalannya," ujar Ujang.

Dia menyebut hanya di era Jokowi, Gibran-Bobby maju ke Pilkada. Ia membandingkan dengan Presiden sebelumnya yang tak ada putra putrinya menjadi kepala daerah, saat aktif sebagai RI-1. "Ini Jokowi efek. Dan, bisa juga aji mumpung. Mumpung lagi berkuasa. Jadi, ingin ikut berkuasa juga," kata Ujang.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut