3 Alasan Jokowi Bisa Jadi King Maker Pilpres 2024

Presiden Joko Widodo saat konferesi pers kedatangan vaksin COVID-19
Presiden Joko Widodo saat konferesi pers kedatangan vaksin COVID-19
Sumber :
  • Repro Youtube Sekretariat Presiden

VIVA – Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi mengatakan Presiden Joko Widodo atau Jokowi diprediksi bakal menjadi 'King Maker' paling kuat pada Pemilu Presiden 2024 mendatang. Siapa calon presiden yang mendapat restu Jokowi kelak, maka calon tersebut berpeluang menang di pilpres

Burhanuddin setidaknya menyebut tiga analisa kenapa Jokowi bisa menjadi ‘King Maker’ Pilpres 2024. Pertama, tingkat kepuasan publik atau approval rating terhadap Jokowi yang tinggi, kisaran 71-72 persen (berdasar survei terakhir), akan membuat Jokowi sebagai centre pression bagi semua capres untuk mendapat restunya.

"Kalau misalnya Jokowi bisa mempertahankan approval rating yang tinggi pada saat yang sama menjadi komandan koalisi yang menguasai 81 persen kekuatan koalisi pemerintah di parleman, maka jokowi potensial jadi king maker," kata Burhanuddin Muhtadi dalam perbincangan di tvOne dikutip Kamis, 13 Januari 2022.

Kedua, peluang Jokowi sebagai King Maker tergantung sejauh mana Presidential Threshold (PT) yang sekarang tengah digugat oleh kalangan aktivis di Mahkamah Konstitusi (MK). Bila gugatan tersebut ditolak MK -- ambang batas pencalonan presiden tetap 20 persen -- maka Presiden Jokowi akan menjadi King Maker pada pemilu berikutnya karena menguasai 81 persen kekuatan di parlemen.

"Partai opisisi PKS-Demokrat bersatu sekalipun tidak cukup untuk memenuhi ambang batas minimal untuk mengusung capres yakni 20-25 persen. Tapi kalau gugatan Refly Harun berhasil akan banyak potensi calon yang keluar dari kuasa Presiden Jokowi. Jadi sangat tergangtung konstelasi di MK," paparnya

Ketiga, peluang Jokowi sebagai ‘King Maker’ 2024 tergantung situasi politik pada 2 tahun terakhir, apakah ada capres dominan atau tidak. Menurut Burhanuddin, jika dilihat dari survei Indikator yang baru dirilis, tidak ada capres yang benar-benar dominan.

"Pak Prabowo unggul tapi keunggulannya masih 20 persen jauh berkurang dibanding perolehan beliau di 2019. Ganjar Pranowo mengalami stagnasi popularitas, Anies juga belum bisa bersaing dengan Ganjar dan Prabowo," ungkap Burhan