Ridwan Kamil: Mas Anies Tak Bisa Disaingi Gubernur se-Indonesia Raya

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil
Sumber :
  • VIVA/M Ali Wafa

VIVA – Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengakui bahwa popularitas dan elektabilitasnya sebagai salah satu tokoh yang kerap disebut sebagai kandidat potensial dalam pemilu presiden 2024 masih di bawah sejumlah gubernur lainnya, misalnya Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Bahkan dia menerima pula hasil analisis dan survei bahwa popularitas dan elektabilitasnya masih terbatas di lingkup provinsi Jawa Barat, alih-alih secara nasional.

Fakta itu merupakan kewajaran karena dia baru satu periode memimpin Jawa Barat, lantas belum dapat berbuat banyak untuk membangun provinsi itu terutama karena pandemi COVID-19. "Saya menerima semua komentar itu. Bayangin, saya jadi gubernur, lagi semangat mau gimana-gimana, kena COVID-19 dua tahun," katanya dalam wawancara khusus dengan The Interview di Bandung pada Jumat, 11 Maret 2022.

Ridwan mencontohkan Ganjar Pranowo yang sekarang telah menjalani periode kedua sebagai gubernur Jawa Tengah. Sedangkan dia baru memulai tetapi sudah terganggu pandemi COVID-19. Maka wajar popularitas dan elektabilitasnya masih di bawah Ganjar. "Kalau terlalu tinggi jadi aneh," katanya.

Tingkat keterkenalan dan keterpilihan hasil riset sejumlah survei akhir-akhir ini, Ridwan menilai, bukan efek hasil kerjanya sebagai gubernur Jawa Barat, melainkan hasil sewaktu dia menjabat wali kota Bandung pada 2013-2018. Sedangkan efek keterkenalan dan keterpilihan sebagai gubernur Jawa Barat belum dapat dinilai.

Berbeda lagi dengan Anies Baswedan yang, menurut Ridwan, popularitas dan elektabilitasnya kerap menempati posisi tiga besar secara nasional meski Anies baru satu periode menjabat gubernur DKI Jakarta. Faktor utamanya ialah Jakarta sebagai ibu kota negara dan pusat kekuasaan.

"Kalau Mas Anies, dalam kacamata saya, walaupun satu periode, posisi Jakarta pusat atensi, makanya tidak bisa disaingi oleh gubernur se-Indonesia Raya," ujarnya. "Saya tahu diri: [saya] bukan [pemimpin] Jakarta sebagi pusat atensi, bukan juga gubernur yang dua periode."