Elite PDIP Soroti Kemiskinan Ekstrem di Jakarta: Bansos Bukan Jawaban

Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDIP Gilbert Simanjuntak
Sumber :
  • DPRD DKI Jakarta

VIVA Politik - Anggota Fraksi PDI Perjuangan (PDIP) di DPRD DKI Jakarta, Gilbert Simanjuntak menyoroti kasus kemiskinan ekstrem yang melanda di sejumlah kawasan Ibu Kota. Menurutnya, program bantuan sosial (bansos) bukanlah solusi untuk mengatasi permasalahan kemiskinan ekstrem.

Ketua TKN Prabowo-Gibran Hadir di Open House Megawati, PDIP Beri Penjelasan Begini

Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta itu menyampaikan, kebijakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI harus diteliti kembali terkait penyaluran bansos yang menyebabkan 95.668 penduduk di Ibu Kota mengalami kemiskinan ekstrem.

"Itu yang mesti diteliti, kenapa bisa? Apakah mereka tidak mendapat KJP? Apakah tidak dapat kartu yang lainnya yang berupa jaring pengaman sosial, bansos bukan jawaban. Emangnya itu bansos datang sekali langsung sehat? Nggak," kata Gilbert, Rabu 1 Februari 2023.

PDIP Isyaratkan Megawati Bertemu Prabowo Tunggu Hari Baik

Menurutnya, bansos tersebut bukan bantuan yang tidak berlanjut. Dia mencotohkan seperti seseorang yang perlu mendapat asupan makanan tiga kali sehari. 

Dia bilang bansos, tak bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat yang memiliki pengeluaran per kapitanya di bawah Rp11.633 per hari.

Soal Megawati Apakah ke Open House Presiden Jokowi, PDIP Jawab Begini

"Karena bansos itu cuma suntikan sekali kayak orang makan sekali kan besok siang lapar lagi. Tapi, kalau dia memiliki jaring pengaman sosial maka dia akan memiliki kesinambungan, nah apakah mereka ini mendapat?" katanya.

Selain itu, Pemprov DKI juga harus meneliti latarbelakang masyarakat atas pendidikan yang ditempuh. Menurutnya, hal itu tak bisa dilakukan secara sederhana.

"Kemudian yang kedua harus diteliti, kenapa mereka bisa mendapatkan begitu apakah ketidakmampuan atas pendidikan atau segala macam, harus diteliti begitu karena itu bukan persoalan sederhana," ujarnya. 

Gilbert menyampaikan, kemiskinan ekstrem sudah jadi masalah yang sudah lama tak teratasi di Jakarta. Ia menilai perlu ada penelitian lebih lanjut untuk mengatasi masalah tersebut, seperti klasterisasi sejumlah masalah agar penanganannya lebih tepat.

"Ada orang yang tidak punya tempat tinggal tapi dia punya pekerjaan, ya dikasih rusun. Jadi, pendekatannya ini harus di klusterkan. Ini kan persoalan yang sudah puluhan tahun berkarat," katanya.

Meski demikian, Gilbert berharap masalah tersebut bisa ditangani dengan baik oleh Heru Budi. Menurutnya, masalah ini hanya bisa diatasi dengan adanya kebijakan yang memang berpihak kepada masyarakat kecil. "Itu bukan persoalan yang rumit, itu hanya perlu kebijakan, perlu keberpihakan," ujarnya.

Pengemasan bantuan sosial (bansos) dampak krisis pandemi COVID-19. (Foto ilustrasi).

Photo :
  • ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat tingkat kemiskinan ekstrem di Ibu Kota meningkat 0,89 persen atau sebesar 95.668 jiwa per Maret 2022.

Kepala Bagian Umum BPS DKI Jakarta Suryana mengatakan, kriteria penduduk miskin ekstrem adalah yang pengeluaran per kapitanya di bawah Rp11.633 per hari. 

"Intinya bahwa kalau BPS itu menghitung data makro, maka untuk menelusuri siapa dan di mananya membutuhkan data mikro. By name by address itu menggunakan data mikro yang sudah ada di Pemprov DKI Jakarta," ujarnya.

Suryana menyampaikan keterangan Pj Gubernur DKI Heru Budi menyebut jika warga di Ibu Kota telah menerima seluruh bantuan pengentasan kemiskinan, seharusnya kemiskinan ekstrem tidak ada.

"Tapi, faktanya, dari BPS masih menemukan, baik di survei sosial ekonomi nasional yang diselenggarakan pada bulan Maret dan September setiap tahunnya. Masih ada sampel-sampel rumah tangga yang teridentifikasi sebagai penduduk miskin ekstrem," tuturnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya