Pramono Anung: Evaluasi Bujet ke Luar Negeri!

Pramono Anung
Pramono Anung
Sumber :
  • Antara/ Widodo S Jusuf

VIVAnews - Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Pramono Anung menyatakan kunjungan kerja ke luar negeri dalam rangka studi banding mempersiapkan Rancangan Undang-Undang (RUU) tidak bisa dipasrahkan kepada staf ahli. Meski begitu, Pramono menyatakan, anggaran untuk ke luar negeri pada tahun ini memang harus dievaluasi.

"Saya melihat memang angka itu perlu dievaluasi kembali. Terlalu besar," kata Pram di gedung parlemen, Senayan, Jakarta, Senin 20 September 2010.

Karena itu, Pramono dapat memahami protes atau kritikan mengenai besarnya jumlah anggaran untuk kunjungan kerja ke luar negeri. Namun, kata mantan Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu, studi banding ke luar negeri tetap relevan dilakukan legislator.

Legislator mesti mempelajari langsung dan mendapat pemahaman secara menyeluruh. Seperti Rancangan Undang-undang Hortikultura yang belum pernah diatur di Indonesia, DPR perlu mempelajarinya dari negara lain yang maju hortikulturanya.

Studi banding juga lebih banyak dilakukan pada periode ini karena separo RUU yang masuk prioritas legislasi merupakan inisiatif DPR. Dari 70 RUU, 36  adalah inisiatif DPR.

"Itu tentunya menyiapkan draf awal naskah akademis yang melibatkan para ahlinya. Memang otoritas sepenuhnya di DPR, bukan para profesor dan sebagainya yang memutuskan, tetapi ini lembaga politik. Sehingga mau tidak mau, suka tidak suka, mereka (anggota DPR) juga harus paham RUU itu," kata Pram.

Sebelumnya, Indonesia Budget Center merilis anggaran ke luar negeri DPR untuk tahun 2010 berlipat 76 kali dibanding tahun pertama DPR periode yang lalu. Namun, angka 76 kali lipat ini dibantah Ketua DPR Marzuki Alie dengan menyatakan kenaikan sefantastis itu tidak semuanya disetujui Kementerian Keuangan.(ywn)