PAN Jumpa Pers Soal Hadi Djamal Pukul 11.00

VIVAnews - Dewan Pimpinan Pusat Partai Amanat Nasional akan menggelar jumpa pers mengenai legislatornya, Abdul Hadi Djamal, yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi. Jumpa pers akan dipimpin Ketua Umum PAN, Soetrisno Bachir.

"Pukul 11.00 di kantor DPP," kata Wakil Sekretaris Jenderal PAN, Viva Yoga Mauladi, saat dikonfirmasi VIVAnews, Rabu 4 Maret 2009. Kantor DPP PAN di Jalan Warung Buncit Raya, Jakarta Selatan.

Penangkapan anggota Komisi Perhubungan Dewan Perwakilan Rakyat itu, Abdul Hadi Djamal, dimulai saat Komisi Pemberantasan Korupsi menerima laporan bahwa akan ada pertemuan antara Departemen Perhubungan, anggota dewan, dan swasta.

"Pertemuan itu diduga akan ada pemberian uang kepada anggota DPR," kata juru bicara KPK Johan Budi SP, di Gedung KPK, Jakarta, Selasa 3 Maret 2009. "Pertemuan diperkirakan berlangsung sekitar pukul 16.00 di sebuah hotel di Jakarta Pusat."

Menurut Johan, penyidik KPK langsung meluncur ke tempat yang diinformasikan itu, yakni di Hotel Sultan. "Ternyata benar ada pertemuan tersebut," ujar Johan.

Kemudian, Abdul Hadi yang mencalonkan lagi sebagai legislator nomor urut 1 daerah pemilihan Sulawesi Selatan I itu muncul dalam pertemuan dengan menumpang mobil Nissan Terrano. Dia kemudian bertemu pegawai Departemen Perhubungan, Darmawati Dareho, yang berada di dalam mobilnya, Honda Jazz. Abdul Hadi kemudian masuk ke dalam mobil Darmawati dengan membawa tas berwarna cokelat.

"Kemudian mereka meluncur dengan mobil itu, mereka duduk di belakang dan di depan ada sopir," jelas Johan.

Sekitar pukul 22.30, penyidik KPK berhasil menghadang mobil tersebut tepat di persimpangan Jalan Sudirman-Casablanca. Penyidik KPK kemudian menggeledah mobil tersebut dan mendapati uang di dalam sebuah tas berwarna cokelat yang berjumlah US$ 80 ribu dan Rp 54,5 juta. "Kemudian di bawah jok mobil kita menemukan ada tambahan US$ 10 ribu," jelasnya.

Saat penggeledahan, tiba-tiba mobil milik Abdul Hadi melintas di perempatan Jalan Sudirman-Casablanca. Mobil itu dikendarai oleh sopirnya.

Menurut Johan, dari tangkapan itu, penyidik menduga bahwa ada pihak lain yang memberikan uang itu. Dan akhirnya ditemukan nama Hontjo Kurniawan, komisaris PT Kurnia Jaya Wira Bakti. "Kemudian kita meluncur ke apartemennya dan melakukan penangkapan," jelasnya.

Setelah itu, semua orang yang diduga terlibat dalam aksi suap terkait program lanjutan pembangunan fasilitas bandara dan pelabuhan di kawasan timur Indonesia dibawa ke Gedung KPK. Nilai proyek program itu mencapai Rp 100 miliar. "Sampai saat ini ada empat orang yang diperiksa, yakni tiga orang itu dan sopir Honda Jazz," jelas Johan.