Pemilu Presiden 2019

SMRC: Jokowi Diuntungkan Survei, Leluasa Pilih Cawapres

Presiden Joko Widodo memberi hormat di Istana Negara.
Sumber :
  • REUTERS/Darren Whiteside

VIVA – Teka- teki siapa yang akan mendampingi Presiden Joko Widodo untuk maju kembali saat Pemilu 2019 terus menjadi perbincangan menarik di publik. Menurut Peneliti Lembaga Saiful Mujani Research dan Consulting (SMRC), Sirojudin Abbas, posisi Jokowi kini diuntungkan dengan penilaian survei belakangan ini.

Mendag Lutfi Dinobatkan Jadi Pemimpin Terpopuler oleh Warganet

Survei menunjukkan elektabilitas Jokowi mencapai 54 persen. Elektabilitasnya paling tinggi dibandingkan 19 nama calon presiden pesaingnya yang ada dalam survei. Ini dianggap menunjukkan tren positif, jika dibandingkan dengan pengalaman Susilo Bambang Yudhoyono saat bertarung untuk periode kedua saat Pemilu 2009-2014.

"Kecenderungannya terus menguat. Dalam simulasi nama (calon presiden) yang lebih kecil, misalnya 10-8 calon sampai ke bawah itu, elektabilitas Jokowi hampir 60 persen," kata Abbas di kantornya di kawasan Jakarta Pusat, Jumat, 19 Januari 2018.

Menteri LHK: Pembangunan Tak Boleh Terhenti Atas Nama Deforestasi

Dengan begitu, Abbas mengatakan, bila di Pilpres nanti hanya tersisa dua pasangan calon, secara otomatis juga menambah tingkat keterpilihan Jokowi.

Soal Cawapres

Menko Luhut Ingatkan Visi Poros Maritim Dunia Harus Terealisasi

Abbas pun menilai Jokowi tak perlu terbebani dengan siapa yang akan menjadi calon wakil presiden bagi dirinya demi mengamankan suara dari kelompok-kelompok tertentu pada Pilpres 2019.

Pasalnya, memilih komposisi calon presiden dan wakilnya berdasarkan sebaran wilayah agak dianggap tidak berpengaruh jika menengok hasil survei elektabilitas Jokowi tadi.

"Dalam posisi seperti ini, dia sebetulnya punya keleluasaan menentukan wakilnya siapa. Karena kontribusi wakil dalam posisi saat ini menjadi kecil atau minor," kata dia.

"(Kondisi yang sama) Pak SBY memilih Pak Boediono, sama-sama Islam, dari Jawa Timur juga, terpilih jumlah begitu besar. Kalau mengikuti teori umum mestinya SBY ambil luar Jawa lagi dong,” ucapnya menambahkan.

Namun, Abbas mengingatkan, jelang pendaftaran calon presiden dan wakil presiden Agustus 2018, Jokowi perlu mewaspadai tiga isu penting yang dimainkan lawan politiknya.

Isu keamanan, ekonomi dan agama bakal menentukan siapa pendamping Jokowi di Pemilu 2019. Bila salah satu isu mendominasi jelang pendaftaran, bisa dipastikan mantan Gubernur Jakarta itu memilih pasangannya sesuai kebutuhan yang ada.

"Mungkin bulan Mei, Juni, Juli, penetapan calon (wakil presiden) akan sangat dipengaruhi oleh kondisi berkembang. Ke arah mana ini," ujarnya. (ren)

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya