Suku Bunga Acuan Naik, BI: Rupiah Lemah Hingga Akhir Maret

Nilai tukar Rupiah
Sumber :
  • ANTARA/Zabur Karuru

VIVA – Bank Indonesia menyatakan, usai kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat atau Fed Fund Rate, nilai tukar rupiah hingga akhir Maret ini masih akan mengalami pelemahan. BI pun akan terus mencermati nilai tukar rupiah terhadap dolar.

img_title Harga Minyak Tembus US$115 per Barel, Rupiah Ikut Tertekan

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Agusman mengatakan, hal ini juga didorong oleh memburuknya sentimen pasar terkait dengan penerapan inward-oriented trade policy dari negara-negara maju, seperti Amerika dan di Eropa yang dikhawatirkan mendorong retaliasi dari negara lain.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Bank Indonesia akan terus mewaspadai meningkatnya risiko ketidakpastian pasar keuangan global dan tetap melakukan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar sesuai dengan nilai fundamentalnya, dengan tetap menjaga bekerjanya mekanisme pasar," kata Agusman di Gedung BI, Kamis, 22 Maret 2018.

img_title Rupiah Melemah ke Rp18.080 per Dolar AS, Konflik Houthi dan Harga Minyak Jadi Sorotan

Menurut Agusman, BI tidak pernah menargetkan level pelemahan rupiah terhadap dolar, namun mengutamakan pemantauan terhadap volatilitasnya. Terutama, dengan penerapan Inflation Targeting Framework (ITF) yang memiliki dua fitur, yaitu menggunakan inflasi dan ranah kebijakan fleksibilitas nilai tukar. 

"Apakah kemudian dengan adanya pengaruh dari ketenangan market Fed Statement tadi (kemarin) malam itu mempengaruhi pada nilai rupiah? Tentu akan berpengaruh, tapi itu tidak hanya terjadi pada Indonesia, tapi juga pada mata usang asing lain akan seperti itu," ujarnya.

img_title Rupiah Tertekan ke Rp17.913 per Dolar AS, Pasar Waspadai Sinyal Kenaikan Bunga The Fed

Di lain pihak, Direktur Kebijakan Makro Prudensial BI Yoga Affandi menjelaskan, kenaikan suku bunga The Fed tersebut pada dasarnya sudah diperkirakan BI sebesar 25 basis poin (bps). Kenaikkan suku bunganya juga hanya akan terjadi sebanyak tiga kali. 

Ini juga, menurut dia, menyebabkan pasar tenang dan confidence. "Kami sampaikan, stance kebijakan moneter masih netral karena salah satunya diukur dari inflasi. Kami yakin, inflasi akan berada di kisaran 3,5 persen plus minus 1 persen," ujarnya.

Ketua Dewan Penasihat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Hashim Djojohadikusumo di Rapimnas Kadin 2026

Rupiah Dibayangi Ancaman Rp21.000 per Dolar AS, Ini 4 Hal yang Harus Segera Dibenahi

Rupiah kini terancam melemah hingga angka Rp21.000 per dolar AS. BI sekarang semakin menegaskan stabilitas kurs, sementara pembenahan pasar modal menjadi sorotan.

img_title
VIVA.co.id
30 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut