Kisah Tiga Kartini MRT Jakarta Melamar Jadi Masinis
- VIVA.co.id/Syaefullah
VIVA – Kereta MRT Jakarta ditargetkan mulai beroperasi mengangkut penumpang mulai Maret 2019. Sejumlah persiapan terus dikebut PT MRT Jakarta guna tercapainya target tersebut, baik sarana prasarana maupun sumber daya manusia (SDM).
Tak cuma itu, PT MRT Jakarta juga terus melakukan sejumlah perubahan besar dalam perekrutan SDM. Yaitu, merekrut enam masinis wanita yang saat ini belum lazim ada di Indonesia.
Lalu bagaimana cerita para kartini itu bisa masuk jadi Masinis MRT Jakarta? berikut ceritanya dikutip dari Instagram @mrtjkt, Jumat 20 April 2018.
Tiara Alincia Fitri, 21 tahun, lulusan API Madiun
![]()
"Saya dulu belajarnya menyeluruh (sistem dan infrastruktur perkeretaapian), termasuk sistem operasi, rel, persinyalan, dan sarana keretanya. Awalnya ketika melamar di MRT Jakarta, saya menuliskan untuk posisi sebagai staf stasiun, meski kemudian ternyata saya diterima untuk posisi masinis.
Meskipun awalnya sempat grogi, namun kalau dari MRT Jakarta saja percaya ke saya, maka saya harus percaya juga bahwa saya mampu. Apalagi dengan pembekalan yang sama dengan calon masinis laki-laki, dan melihat negara-negara masinis perempuan tetap profesional, maka saya optimis bisa.
Pesan saya ke calon penumpang, selain menjaga agar kereta kita bersih dan terawat, juga jangan takut jika kereta Anda dikemudikan perempuan
Nidya Laras, 22 tahun, lulusan STTD Bekasi
![]()
Saya memang dari awal ingin jadi masinis. Saya mendaftar dan langsung diterima sebagai masinis di MRT Jakarta, satu dari enam orang dari sekolah saya yang diterima pada perekrutan kali itu, padahal yang daftar banyak sekali.
Dengan menjadi masinis, saya memang harus belajar lagi. Tapi tidak apa, saya menikmati prosesnya. Sekarang saya sudah menyelesaikan diklat di API Madiun yang dilanjutkan dengan diklat termasuk praktek di Ampang Line Malaysia.
Tantangan terbesar menjadi masinis perempuan saat ini sepertinya adalah mengubah mindset. Masyarakat kita seringkali mengasosiasikan masinis dengan laki-laki, padahal di negara lain sudah sangat jamak ada masinis perempuan. Masinis perempuan tetap dibekali profesionalisme dan tanggung jawab yang sama dengan masinis laki-laki. Kami berharap masyarakat bisa mengubah mindset dan tetap percaya pada kami.