Dua Hal yang Swasta Khawatirkan dari Pelemahan Rupiah

Mata uang rupiah dan dolar AS.
Sumber :
  • VIVAnews/Muhamad Solihin

VIVA – Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terjadi sejak awal pekan ini ternyata membuat sejumlah dunia usaha waspada. Sebab, pelemahan tersebut dapat mengganggu kinerja utang swasta dan meningkatnya biaya produksi.

img_title Rupiah Tertekan ke Rp17.913 per Dolar AS, Pasar Waspadai Sinyal Kenaikan Bunga The Fed

Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengatakan, pelemahan rupiah sampai sejauh ini tetap disikapi pelaku usaha dengan waspada. Terlebih tren global mencatat dolar sedang menguat.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut dia, kondisi pelemahan tersebut masih bisa disikapi secara internal, yaitu dengan mendorong pemerintah menggenjot pertumbuhan industri dalam negeri.

img_title Rupiah Menguat ke Rp17.896 per Dolar AS pada Jumat Pagi, Naik 19 Poin

"Kita akui ini memang karena faktor eksternal, tapi ini bisa dimitigasi dengan baik oleh faktor internal. Yaitu mendorong pertumbuhan industri khususnya manufaktur," ujar Shinta kepada VIVA, Kamis, 26 April 2018.

CEO Sintesa Group Shinta Widjaja Kamdani

img_title Rupiah Menguat ke Rp17.855, BI Ungkap Strategi Jaga Stabilitas di Tengah Gejolak Global

Dia mengungkapkan, saat ini saja, kontribusi industri manufaktur terhadap PDB terus mengalami penurunan. Bahkan hampir mencapai 20 persen terhadap PDB, dengan pertumbuhannya yang hanya mencapai lima persen.

Sementara, banyak dari bahan baku industri Indonesia yang masih bergantung pada impor. Terlebih, lanjut dia, jika merujuk Purchasing Manager’s Index (PMI) Indonesia, trennya terus turun. Di mana pada Maret lalu hanya mencapai angka 50,7, sedangkan bulan sebelumnya mampu mencapai angka 51,4.

"Hal ini mengindikasikan bahwa produk kita kalah saing dengan negara lain sehingga mengakibatkan permintaan produksi turun," ujarnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Karena itu, menurutnya, sudah saatnya pemerintah menggenjot revitalisasi industri. Meski, dia juga mengapresiasi usaha pemerintah yang dianggap cepat tanggap dengan meluncurkan revolusi industri 4.0.

"Pemerintah harus mampu mendorong SDM yang berkualitas dan menghilangkan kesenjangan antara kebutuhan industri dan ketersediaan SDM. Selain itu, kami ingin agar pemerintah dapat lebih meningkatkan iklim investasi yang sudah mulai membaik ini melalui perbaikan regulasi dan negosiasi perdagangan," ungkapnya.

Ilustrasi rupiah dan dolar

Rupiah Melemah ke Rp18.080 per Dolar AS, Konflik Houthi dan Harga Minyak Jadi Sorotan

Rupiah sore hari ini ditutup melemah ke Rp18.080 per dolar AS akibat kekhawatiran pasokan energi global, kenaikan harga minyak, dan tekanan fiskal Indonesia.

img_title
VIVA.co.id
23 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut