Menko Darmin Anggap Aneh Krisis Turki Bisa Bikin Rupiah Lemes

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution.
Sumber :
  • Anwar Sadat/ VIVA.co.id

VIVA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengungkapkan, pengaruh krisis ekonomi yang terjadi di Turki pada dasarnya tidak akan sampai berdampak ke Indonesia maupun negara-negara emerging market. Sebab, krisis ekonomi Turki bersifat khusus.

img_title Rupiah Tertekan ke Rp17.913 per Dolar AS, Pasar Waspadai Sinyal Kenaikan Bunga The Fed

Dia menjelaskan, krisis ekonomi yang bermula akibat persoalan domestik negara itu dengan Amerika Serikat. Namun, pengaruhnya saat ini sedikit terasa di Indonesia dengan melemahnya rupiah, akibat persepsi sesaat pelaku pasar.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Karena satu negara sebenarnya itu terlalu berlebihan. Turki memang ada hal khusus di sana, sehingga kena dampaknya yang enggak mesti berlaku di negara lain. Namun, setelah kena orang bilang 'oh imbasnya besar' macam-macam," ujar Darmin di Jakarta, Senin, 13 Agustus 2018.

img_title Rupiah Menguat ke Rp17.896 per Dolar AS pada Jumat Pagi, Naik 19 Poin

Dia menjelaskan, krisis Turki pada dasarnya bermula akibat tindakan pemerintah Turki yang menahan seorang pendeta Evangelis Andrew Brunson. Pendeta itu diadili di Turki atas tuduhan terorisme. 

Akibat hal itu, lanjut Darmin, Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta pemerintah Turki untuk melepaskan pendeta tersebut. Trump mendesak pembebasannya dengan menaikkan bea masuk baja dan alumunium asal Turki.

img_title Rupiah Menguat ke Rp17.855, BI Ungkap Strategi Jaga Stabilitas di Tengah Gejolak Global

"Ini bukan urusan perang dagang kayak dengan China dan Eropa. Nah dia (Trump) lagi marah saja, kemudian dibebankan bea masuk. Dia tahu, kalau dibebankan bea masuk dengan produk besar begitu di Turki ini dampaknya besar. Ini orang kemudian menganggap pastor (Brunson) enggak mau melepas. Ini pasti panjang, kemudian ada pelemahan mata uang Turki, itu saja," tuturnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Karena itulah Darmin menegaskan, pelemahan lira Turki yang saat ini turut menggerek pelemahan rupiah hingga sebesar Rp14.600. Namun ditegaskan, dampaknya hanya bersifat sementara.

"Bukan cuma rupiah, tapi ke emerging market. Euforia saja sebenarnya, semestinya enggak (berdampak ke Indonesia). Aneh saja," kata dia. (ase)

Ilustrasi rupiah dan dolar

Rupiah Melemah ke Rp18.080 per Dolar AS, Konflik Houthi dan Harga Minyak Jadi Sorotan

Rupiah sore hari ini ditutup melemah ke Rp18.080 per dolar AS akibat kekhawatiran pasokan energi global, kenaikan harga minyak, dan tekanan fiskal Indonesia.

img_title
VIVA.co.id
23 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut